Thursday, January 19, 2012

Berminat Memiliki dan Melestarikan Budaya?


Upacara Tiwah dalam masyarakat Dayak penganut agama Kaharingan, sesungguhnya mer...upakan ritual tertinggi. Melalui serangkaian upacara panjang, melalui sebuah jembatan, roh leluhur diantar menuju surga. Kami mendokumentasikan seluruh rangkaian upacara itu dalam sebuah film dokumenter produksi PADMA Publisher & Communications (Penerbit Tabloid URBANA). Berminat memiliki dan melestarikan budaya? Hubungi via blog ini. Harga Rp55.000,- sudah termasuk ongkos kirim.

Monday, January 9, 2012

Budi Dayak: Surat dari Lombok Sudah Berada dalam Tubuh

Budi Dayak:
Surat dari Lombok
Sudah Berada dalam Tubuh

Surat dari Lombok Sudah Berada dalam Tubuh



Oleh: Budi Kurniawan (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Tabloid URBANA, bekerja di Banjarmasin, tinggal di Jakarta)

Nyiur melambai di pantai landai. Ombak putih saling berkejaran, lalu berdebur di pantai berpasir halus. Angin berembus pelan membelai dedaunan rimbun pohon cemara. Ratusan bule menjemur diri di bawah terik mentari pagi. Di pantai yang senyap, sebagian di antara mereka bercengkerama dengan pasangan masing-masing. Sebagian lainnya, asyik membaca buku, berselancar, berenang, dan menyelam menikmati indahnya laut di sekitar Gili Trawangan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, awal November lalu.

Keindahan alam dan suasana senyap, rupanya menjadi alasan utama para pelancong dari berbagai negara mengunjungi Lombok dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Data Pemprov NTB tahun 1980 mencatat ada 101 pulau yang berada di sekitar Lombok. Pulau-pulau seperti Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, menjadi salah satu tujuan utama para turis selain Pantai Senggigi yang terkenal itu dan obyek wisata lainnya.

Secara umum, topografi dan kebudayaan di Lombok sangat mirip dengan Bali. Karena itu pula, sejak lama banyak orang menyebut Lombok sebagai Bali kedua. Namun, Lombok bisa jadi lebih eksotis dan alami dibanding Bali. Obyek-obyek wisata di pulau ini relatif masih belum banyak direkayasa tangan manusia. Selain itu, tak seperti Bali yang riuh dan padat pelancong, di Lombok semua masih berlangsung sangat damai.

Karena itu, Pulau Lombok mengibarkan semangat wisata dengan jargon, “Anda bisa melihat Bali di Lombok, tapi Anda tak bisa melihat Lombok di Bali”. Slogan ini tak berlebihan, karena nuansa Lombok memang tak jauh beda dengan nuansa Bali. Anda bisa melihat pura atau tata cara peribadatan umat Hindu di Bali, tapi tak bisa menyaksikan keindahan budaya Islam seperti yang ada di Lombok. Karena nuansa Islam yang sangat kental, khalayak menjuluki Nusa Tenggara Barat sebagai provinsi ‘Seribu Mesjid’.

Hampir di semua pulau –orang Lombok menyebutnya Gili—terdapat keindahan alam luarbiasa. Di Gili Trawangan misalnya, pelancong bisa berkeliling pulau sepanjang 7,3 Kilometer menggunakan Cidomo, pedati khas Lombok. Satu Cidomo bisa diisi enam penumpang yang duduk saling berhadapan. Biayanya relatif murah, Rp35.000,- untuk tiga penumpang. Sedangkan untuk jarak dekat, tarifnya Rp3000,- hingga Rp5000,-.

Di pulau seluas 360 hektare yang sama sekali tak ada kendaraan bermotor ini, terdapat 32 Cidomo. Sarana transportasi tradisional ini juga biasanya digunakan pelancong menuju hotel atau penginapan dari tempat pendaratan. Selain untuk mengantar pelancong berkeliling pulau, Cidomo juga digunakan untuk mengangkut berbagai barang, dari air tawar, makanan, buah-buahan, sayuran, hingga minuman ringan berbagai merek.

Selain Cidomo, pelancong juga bisa menggunakan sepeda sebagai alat transportasi di Gili Trawangan. Sepeda-sepeda ini disewakan baik oleh penginapan maupun warga lokal. Tarifnya sebesar Rp50.000,- sehari semalam. Umumnya sepeda berkondisi baik dan bermerek.

Sambil berkeliling pulau, kita bisa menyaksikan panorama di sepanjang pantai Gili Trawangan dengan lautnya yang membiru. Rumah-rumah penduduk yang sederhana dan khas juga jadi pemandangan tersendiri di bagian tengah pulau. Di pulau ini terdapat 315 kepala keluarga. Rata-rata merupakan pendatang dari Lombok. Mereka mulai bermukim sejak pulau ini mulai dikunjungi banyak pelancong. Warga umumnya bekerja tukang pijat, penjual cenderamata, pembuat rumah, pelayan restoran, dan karyawan hotel.

Di Gili Trawangan sangat mudah mendapatkan tempat menginap. Terdapat puluhan penginapan dengan kelas dan harga beragam, dari Rp300 ribuan hingga Rp1,5 juta per malam.
Harga umumnya ditentukan letak penginapan. Yang berada di sepanjang pantai harganya lebih mahal. Sebaliknya yang jauh lebih murah. Harga juga ditentukan oleh tersedia tidaknya air tawar di penginapan. Maklumlah di Gili Trawangan tidak banyak terdapat sumber air tawar.

Untuk Anda berlibur sambil bekerja, tidak perlu khawatir. Sarana komunikasi dan perbankan di Gili Trawangan sudah jauh dari cukup. Beberapa bank menyediakan mesin ATM. Hampir semua penginapan juga menyediakan internet, bahkan Wifi pun tersedia hingga ke kamar-kamar. Berbagai barang kebutuhan tersedia di banyak toko. Tapi, harganya jauh berbeda dibanding di Lombok.

Di bagian utara Gili Trawangan, para penggemar diving bisa menyaksikan kelompok ikan hiu jinak. Pada kedalaman 80 feet, bisa disaksikan beberapa ekor ikan hiu yang sedang beristirahat. Sementara di bagian timurnya terdapat sponge point atau sponge garden yang dipenuhi karang dan ikan-ikan berwarna menawan.

Di bagian timur Gili Trawangan terdapat konservasi penyu sisik (Eretmochelys Imbricata). Selain berhasil menyelamatkan, konservasi milik pribadi ini juga berhasil menetaskan dan melepaskan banyak penyu ke lautan. Upaya konservasi ini menyedot banyak perhatian para pelancong.

Selain di Gili Trawangan, para penggemar snorkling bisa mendapat pemandangan indah di Gili Meno. Pulau ini memiliki banyak karang laut yang bisa dilihat tanpa harus menyelam lebih dalam. Ikan hias di pulau ini sungguh berlimpah. Ikan untuk dikonsumsi seperti Kerapu dan Napoleon juga mudah didapat. Wisatawan Jepang yang datang pada bulan Mei-Juni menyenangi dua jenis ikan ini.

Jika ingin bersantai, Anda juga bisa memilih menginap di Gili Air. Luas pulau kedua di seberang Gili Trawangan ini 180 hektare dengan keliling 6 Kilometer. Di sini juga banyak penginapan, dari yang sederhana hingga berpendingin udara. Di laut sekitar pulau ini juga terdapat ikan hias aneka warna.

Dibanding Trawangan dan Meno, Gili Air jauh lebih sepi. Ombak biasanya berdebur setelah senja menjelang. Kebun-kebun milik warga yang berada di sekitar penginapan menambah asri suasana. Begitu juga dengan pohon-pohon kelapa yang tumbuh bebas memenuhi tepian pantai Gili Air.
***
Untuk menuju Gili Trawangan, Meno, dan Air relatif mudah dan murah. Jika bepergian dari Jakarta, Anda bisa menggunakan pesawat udara menuju Bandara Internasional Praya di Lombok Timur. Bandara ini baru sekitar tiga bulan menggantikan Selaparang sebagai pintu masuk utama ke Lombok, NTB. Berbeda dengan Selaparang yang berada di tengah kota, Praya berada cukup jauh dari Mataram. Sarana dan prasarana bandara ini juga masih belum lengkap. Penataan bandara masih berlangsung disana-sini. Hampir di seluruh bagian luar menuju bandara masih gersang. Jalanan menuju bandara pun masih baru diaspal.

Parahnya, pengaturan bandara masih jauh dari sempurna. Kala musim haji, bandara dipenuhi ribuan warga yang mengantar atau menjemput sanak-saudara mereka ke dan dari Tanah Suci. Pengantar dan penjemput memenuhi bagian luar pintu masuk bandara, sehingga cukup menyulitkan penumpang yang datang dan mencari angkutan. Para pengantar dan penjemput ini juga meninggalkan sampah dimana-mana. Akibatnya, bandara jauh dari kesan internasional. Yang ada justru kumuh, kotor, dan penuh sampah.

Memasuki Lombok dari Bandara Praya, kita wajib hati-hati, terutama ketika memilih angkutan menuju berbagai tempat wisata di NTB. Made Sudana, sopir taksi yang mangkal di bandara itu berkisah, menurutnya banyak angkutan gelap (tanpa izin) yang beroperasi di sana. Mereka umumnya menawarkan angkutan jenis minibus dengan harga cukup mahal, hingga ratusan ribu untuk perjalanan Bandara-Mataram.

Langkah terbaik untuk menghindari para calo angkutan ini adalah dengan berpura-pura sudah dijemput saudara atau berjalan kaki agak ke luar bandara baru kemudian naik taksi argo. Ini terpaksa dilakukan karena angkutan umum di bandara –juga di Mataram—umumnya tak banyak beroperasi. Jika ingin menghemat, bisa juga naik angkot. Namun Anda harus rela berganti-ganti angkutan hingga menuju Bangsal Pemenang.

Dengan menggunakan taksi argo kita menuju Bangsal Pemenang, 25 Kilometer arah utara Mataram, tempat pemberangkatan para pelancong menuju Gili Trawangan, Air, dan Meno. Perjalanan dari bandara ke Bangsal cukup jauh, memakan waktu hampir dua jam. Setelah melewati Mataram dan menuju Bangsal, Anda akan melewati jalan berkelok, menanjak, dan menurun. Di sebelah kiri terhampar lautan luas yang terlihat jauh karena terlindung jurang. Sedangkan di sebelah kanan, terhampar perbukitan yang sebagian besar telah gundul.

Tiba di Bangsal, kita harus menunggu kapal penuh penumpang sebelum berangkat menuju Gili Trawangan. Kapal penyeberangan yang berkapasitas 30-an orang itu dioperasikan sebuah jasa angkutan berbentuk koperasi. Ongkos menyeberang per orang relatif murah. Biayanya tercantum dalam tiket yang dijual penyedia jasa angkutan. Jika ingin cepat sampai, bisa mencarter kapal dengan biaya di atas Rp115 ribu sekali jalan.

Perjalanan Bangsal-Gili Trawangan hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit. Perjalanan berlangsung lancar, karena ombak hanya berdebur sesekali dan angin pun berembus pelan. Dari tengah laut, kita bisa menyaksikan gunung-gunung, bukit-bukit, dan pantai Pulau Lombok yang indah. Dari kejauhan kita menyaksikan Pantai Senggigi dengan pasir putihnya yang menawan. Gunung Rinjani setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut dan yang ketiga tertinggi di Indonesia, puncaknya nampak tertutup kabut dan awan.

Tiba di Gili Trawangan kita langsung disambut pantai berpasir putih yang bersih dan terpelihara. Pelancong asing asyik berjemur di sepanjang pantai dengan pakaian-pakaian minim. Mereka juga berselancar dan berenang. Silih berganti kapal membawa penumpang yang baru tiba dan pelancong yang pergi meninggalkan Gili Trawangan setelah menginap beberapa hari.

Di jalanan pulau, Cidomo lalu-lalang membawa berbagai barang. Pengelola penginapan berlomba menawarkan kamar. Para pedagang dan pemilik penyewaan peralatan menyelam, sepeda, dan anak-anak pantai menawarkan jasa masing-masing. Kesibukan ini terus berlangsung hingga malam tiba.

Untuk pecinta kuliner tak perlu khawatir ketika berada di Gili Trawangan atau pulau-pulau kecil lain yang Anda kunjungi. Di pulau-pulau ini, segala macam makanan, baik lokal maupun internasional tersedia. Harganya beragam, dari Rp15.000,- per porsi hingga ratusan ribu rupiah. Restoran yang umumnya dimiliki para pemodal asing yang bekerjasama dengan orang lokal terhampar di sepanjang pantai. Makan malam yang romantis ditemani cahaya lilin dan deburan ombak pun tersedia.

Sebelum malam tiba, Anda bisa menyaksikan matahari terbenam dari banyak bagian pulau. Para pelancong biasanya bersepeda menuju pantai-pantai ketika senja menjelang menunggu matahari terbenam sambil menikmati makanan dan minuman yang disediakan pengelola penginapan.

Namun, Gili Trawangan dan tempat-tempat wisata lainnya di Pulau Lombok tak hanya menyimpan keindahan tiada tara, tapi juga bara perbenturan keras kebudayaan. Beberapa orang yang saya temui di sepanjang Pantai Senggigi berkisah soal kekhawatiran mereka. Umumnya mereka bersyukur atas berkah keindahan alam yang mendatangkan banyak uang bagi warga Lombok. Tapi berkah itu sesungguhnya sedang diuji.

Ujian itu berupa kian tersingkirnya warga lokal yang awalnya menjadi pemilik tanah yang di atasnya telah banyak berdiri bungalow, hotel, dan penginapan.Umumnya mereka hanya memperoleh remah-remah pariwisata dengan menjadi pelayan restoran, karyawan hotel, penjual cendera mata, tukang pijat, tenaga keamanan, guide, dan pengemudi Cidomo.
Tapi apa mau dikata, pariwisata selalu jadi pedang bermata dua. Satu sisi mendatangkan banyak uang. Di sisi lainnya, kebudayaan bisa kehilangan makna dan jadi produk semata.

Di Gili Trawangan hal ini nampak sangat jelas. Di pulau ini ratusan hektare lahan dikuasai perusahaan-perusahaan besar. Mereka membangun banyak hotel berkelas. Para pemodal umumnya orang asing yang bekerjasama dengan pengusaha-pengusaha asal Lombok. Sebuah restoran yang berada di tepi pantai misalnya dimiliki orang Jerman yang berkongsi dengan pengusaha asal Jakarta. Hal yang sama juga terjadi di tempat-tempat wisata lainnya di Lombok.

Tak jauh dari pantai di Gili Trawangan yang dipenuhi penginapan dan restoran, sebuah mesjid nampak belum jadi dibangun. Tak banyak warga yang menjalankan ibadah di mesjid ini. Namun yang menarik adalah, di depan mesjid berdiri sebuah baliho berukuran cukup besar. Di baliho itu tertulis kata-kata penuh perlawanan terhadap hegemoni pemodal dan datangnya budaya asing ke Gili Trawangan. Baliho ini mungkin hanya sebagian kecil bukti adanya pergerakan akibat telah terjadinya perbenturan budaya.

Muhammad Noor (35), warga Lombok Timur yang empat hari dalam sepekan rutin mendatangi Gili Trawangan karena dipanggil pelancong untuk memijat berkisah tentang baliho itu. Katanya, itu mungkin reaksi dari banyak orang yang tidak bisa mengubah diri dan persepsi terhadap pariwisata. “Saya ini tukang pijat yang dipanggil bule-bule. Saya merasa itu berkah wisata. Dengan upah memijat saya bisa hidup dan menghidupi keluarga. Anda bayangkan, saya mencari nafkah dengan menyentuh badan orang. Tapi, saya tetap menjadi muslim yang baik. Kita harus bisa mengubah pikiran dan pemahaman,” kata Muhammad Noor yang biasa disapa Matnor itu.

Dalam hati sebelum meninggalkan Gili Trawangan dan kembali ke Kalimantan, saya berharap semoga baliho perlawanan itu tak menjadi pemantik perbenturan kebudayaan yang lebih keras lagi. Dan semoga banyak orang bersikap seperti Matnor.

Harapan itu ternyata sia-sia. Tak berapa lama, di penghujung 2011, benturan keras berlangsung juga di Pulau Lombok. Masyarakat yang berdemonstrasi di Pelabuhan Sape, Bima, Lombok Tengah, menentang keputusan bupati yang mengizinkan perusahaan tambang beroperasi di sana, ditembaki polisi. Beberapa orang tewas. Komnas HAM menyebut tiga orang tewas, masyarakat menyebut empat orang, dan polisi menyebut hanya dua dalam peristiwa itu.

Seperti yang sudah-sudah, konflik polisi-masyarakat lebih sering berujung pada penangkapan orang-orang yang dituding sebagai provokator –sejak Orde Baru, “hantu” provokator ini rupanya masih saja dimunculkan hingga kini--, diajukan ke pengadilan dan dihukum, lalu pemerintah membentuk tim pencari fakta, orang-orang pintar saling bersilang sengketa dan mengajukan data-data, dan perkara pun selesai tak berujung.

Jika terus begini, percayalah, Republik ini sudah berada di tubir jurang. Kekerasan akan terus berlangsung di sekujur tubuh Republik. Rakyat pasti akan terus jadi korban, apapun alasannya. Perpecahan bangsa ini bukan lagi ada di depan mata. Tapi sudah berada dalam tubuh. U

Wednesday, September 21, 2011

September

September kembali berada di ujung penanggalan. Kala September, selalu saja kenangan akan nama-nama mereka yang pernah mampir kembali tiba menyapa. Bagi kawan-kawan itu --juga bagiku-- September menjadi bagian tahun yang tak pernah berakhir. Sejarah itu tetap abadi hingga kini. Entah lusa nanti...Takzim untukmu selalu kawan....

Mencoba Memahami

Setelah bertahun-tahun jadi wartawan di berbagai media di Jakarta, dan kini lebih banyak berada di Kalimantan, saya perlahan mencoba memahami keadaan dan orang-orang. Banyak yang berubah. Satu per satu sahabat pergi meninggalkan idealisme dan bergabung bersama orang-orang di "seberang". Tak ada yang salah memang, karena hidup tentu sebuah pilihan.
Saya juga mencoba memahami kian punahnya budaya perlawanan. Kekuasaan kian jumawa. Beberapa orang yang saya kira berada di dataran yang sama, ternyata melawan hanya sesaat, ketika bertemu "harga" yang cocok, mereka kemudian pergi.
Segala persoalan yang datang dan pergi, membuat saya mencoba memahami, mungkin ada baiknya mengerjakan yang bisa dikerjakan, walau kecil sekalipun.

Banjarbaru, September 2011

Wednesday, July 28, 2010

Hanya Sehelai


Berbincang tentang bintang jatuh di kejauhan

Mengenangkan perjalanan para leluhur yang dikalahkan akal budi yang diselewengkan siasat terburuk seperti merentangkan setiap helai rambut di sepanjang jalan hingga tiba di tempat yang mereka sebut akhir tujuan perjalanan. Akhir itulah yang menjadi awal perjalanan setelah kehilangan segalanya termasuk juga harga diri yang murah semurah-murahnya hingga elang burung suci itu pun memalingkan mukanya ketika ayat-ayat dan doa-doa dinaikkan agar perjalanan benar-benar berakhir di tanah harapan. Tanah menyaksikan bintang-bintang berjatuhan lalu harapan diudarakan dan tak jua berjawab hingga hari berganti dan luka menjadi sarang darah nanah dan belatung berjatuhan menggantikan mantra-mantra yang tak lagi punya tempat berpijak kecuali menadahkan tempayan menampung semua airmata yang tak kuasa bertahan

Berbincang tentang terbit pelangi di balik bumi berujung

Di ujung pelangi itulah bongkahan emas menanti disetubuhi menjadikannya perhiasan berharga menghiasai paras hingga ujung jari yang retak diretakkan godam mereka yang mengirimkan berbungkus-bungkus airmata hingga menerbitkan tangis. Lunglai jiwa lunglai hati ketika menjadikan airmata bekal perjalanan menuju harapan kematian tapi tak jua kunjung berhenti atau menjenguk sesekali apalagi menyapa dengan tulus hati. Tak guna berharap pada pelangi ketika hanya tangis yang bisa dijadikan buah tangan yang garis-garisnya tak lagi beraturan membentuk kisah nasib perjodohan dan rejeki tapi hanya membentuk jalan menuju kematian yang datang diam-diam sambil menunggu kapan waktu tepat untuk berkunjung

Berbincang tentang jalan airmata yang menenggelamkan segala

Tulus hati tak pernah tiba ketika mesiu menundukkan perlawanan panah tombak parang sumpit bengkok membengkokkan hati jauh sasaran meleset melesatkan sejarah jauh ke pinggiran dan menjadikannya bunga tidur dan dongeng tak berkesudahan. Di tanah inilah kami berdiri menyanyikan kidung malam sambil merindukan lolong serigala beruang dan lesatan burung elang di angkasa yang berbalas hujan airmata membasahi kerontang tanah yang dulu mendekap dalam hangat mimpi. Berhelai-helai bulu burung elang berjatuhan tapi tak sehelai pun berhenti dalam dekap tangan semuanya bertebaran naik memenuhi langit kemudian menghilang padahal untuk sembuhkan semua luka ini hanya perlu sehelai. Elang menitikkan airmata melihat seluruh helai bulunya dihumbalangkan angin. Merenangi airmata tenggelam dalam kedalamannya menuju dasar terdalam mencari kuburan masing-masing linglung di pekuburan tak bernisan


(Quawpaw, Oklahoma, Juli 2010)




Monday, July 26, 2010

Surat dari Amerika (Bagian Kedua)



Sarah...

Oleh : Budi Kurniawan
(Wartawan, bekerja di Banjarmasin, tinggal di Jakarta.
E-mail: budibanjar@yahoo.com)

Dari sebuah rumah di sebuah komplek yang teduh di pinggiran Los Angeles, nada-nada berdentingan kala jemari kecil itu menari di atas papan-papan piano. Nada-nada itu membentuk lagu. Sederhana. Ada ragu saat jemari itu kebingungan harus menekan papan mana untuk melanjutkan lagu yang dimainkan. Di saat seperti itu, mata kecilnya yang indah memandang pada sang ibu yang sibuk mengiris tomat, bawang merah, dan cabe merah, mengaduknya dan mencampurkannya dengan remasan jeruk nipis segar, bertanya ke mana jari harus ditekankan agar lagu bisa terus berlanjut. Di dini hari yang dingin itu, sang ibu memberi arah. Tapi lagu tetap tak bisa mencapai tuntas paripurnanya.

“Mom, how can I play this song? My books leave in Ambon. U must bring it,” kata gadis kecil bermata hitam itu pada sang ibu.
“Ok, when holiday next year, we are going to Ambon again and bring your book and you can play that’s song. Right? Now, how can you say good night in Bahasa?”
“That’s simple Mom. Selamat malam,” jawab si gadis kecil sambil tertawa kecil.

Ada rasa yang berbeda kala mendengar kata ‘Selamat Malam’ keluar dari gadis kecil warga Amerika itu. Namun tak hanya kata sederhana itu yang bisa ia suarakan. Ia mahir berhitung dalam Bahasa Indonesia. Ia mengenal Ambon dengan sangat sempurna. Kian sempurna lagi ketika hampir sebulan ia berada di sana, bermain bersama anak-anak Ambon, menyaksikan dan menjadi bagian terapat dari keindahan alam dan kekhasan masyarakatnya.

Bagi Sarah, gadis kecil bermata indah itu, Ambon bukan sekadar tempat berlibur. Dari pulau dengan pantai, tanjung, dan gunung-gunung indah itulah leluhurnya berasal. Usi Endah, ibunya orang Ambon yang bermukim dan menjadi warga negara Amerika sejak tahun 1980. Sang ibu bekerja di Amerika dan menemukan jodohnya, lelaki asal Belanda yang menikahinya pada tahun 2000. Tak berapa lama, Sarah lahir dan kini berusia delapan tahun.

Ayah dan ibu Sarah tak sekadar bertemu, berjodoh, dan kini membesarkan putri tunggal mereka. Keduanya pribadi yang unik. Sang ibu termasuk orang cukup berada di Ambon. Hampir semua orang di sana mengenal baik leluhur dan orangtua Usi Endah. Keluarga mereka lah yang menjadi pionir masuknya bisnis perminyakan di Ambon. Keluarga besar ini juga berpendidikan. Sebagian besar di antara mereka tinggal di luar negeri. Selebihnya masih di Ambon.

Ayah Sarah tak kalah menariknya. Leluhurnya orang sangat terkenal di Buitenzborg atau Bogor di masa silam. Namanya terukir abadi dalam sejarah pembangunan Kebun Raya Bogor. Namanya setenar Rafless. Bedanya, ia orang Belanda. Ayah Sarah dan empat generasi sebelumnya lahir dan besar di Tanah Jawa. Mereka orang baik yang terpaksa meninggalkan Indonesia karena tanah air ini memproklamirkan kemerdekaannya dan mengusir semua orang Belanda pulang ke kampungnya tanpa bisa lagi membedakan apa pun.

Walau demikian, Sarah dan kedua orangtuanya tetap merasa menjadi orang Indonesia, bagaimanapun lusuh tidaknya wajah negeri ini. Perasaan semacam ini, kata Usi Endah dan beberapa warga Amerika keturunan Ambon di Los Angeles, wajib dipelihara. Caranya kadang sederhana: berkisah tentang Ambon dan masyarakatnya pada anak dan cucu masing-masing.

Salah satu kisah yang malam itu ramai mereka bincangkan adalah pertemuan dengan beberapa putra Ambon yang membela tim nasional sepak bola Belanda. Yang berkesan ketika mereka membicarakan bagaimana Kapten Timnas Belanda, Giovanni Van Bronckhorst bersama teman-temannya sesama keturunan Ambon pulang dan bertanding melawan kesebelasan lokal. Giovanni yang kedua orangtuanya berasal dari Ambon dan kawan-kawan mengalahkan Persatuan Sepak Bola Ambon (PSA) dengan skor 13-0.

Giovanni dan kawan-kawan memang punya akar sangat dalam dengan Ambon dan masyarakatnya. Menjelang final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan melawan Spanyol misalnya, secara berantai beredar pesan pendek ke telepon genggam warga Ambon. Isinya: Tahuri babunyi di Murkele/Bringin tua berbunga bangga/Nusa ina Pulau Ibu meneteskan airmata/Ketika lima dan satu anak cucu alune dan wemale berlaga di Afrika Selatan membela Belanda/Gandong Ee…Jangan pisah tanpa garam/Mari dukung lima saudara laki-laki di Timnas Belanda/Karena Maluku cuma satu darah…

Yang dimaksud anak cucu Alune dan Wemale dalam pesan pendek itu adalah: Giovanni Van Bronckhorst, Gregory Van Der Wiel, Jhony Heitinga, Zemy de Zeuw, dan Nigel de Jong. Karena kedekatan emosional dan psikologis dengan para pemain Belanda ini, jadi jelas mengapa Ambon gaduh ketika tim yang mereka dukung itu kalah dari Spanyol.

Apalagi dulu Giovanni dan kawan-kawan rutin datang ke Ambon dengan biaya pribadi. Mereka juga membiayai promosi hingga penyelenggaraan pertandingan. Di sela pertandingan dan saat berada di rumah leluhurnya di Ambon, Giovani berbagi kisah tentang pengalamannya bermain sepak bola di daratan Eropa dalam bahasa Ambon yang sangat fasih. Sefasih saat Sarah mengucapkan kata ‘Selamat Malam’…

Surat dari Amerika –Bagian Pertama


Senyum di Korea
Cemberut di Amerika

Oleh : Budi Kurniawan (Wartawan, bekerja di Banjarmasin, tinggal di Jakarta. E-mail: budibanjar@yahoo.com)

“Diperlukan karyawan. Berpenampilan dan berwajah menarik. Tinggi badan minimal 160-170 Cm. Usia 20-25 tahun. Single. Punya kendaraan sendiri. Mudah menyesuaikan diri. Mampu bekerja dalam tim. Langsung interview. Yang diterima langsung mendapatkan penghasilan cukup besar. Bersedia ditempatkan di mana pun. Hanya yang memenuhi syarat yang bisa bergabung.” Iklan lowongan pekerjaan semacam ini di Indonesia jamak ditemukan di berbagai media cetak. Orang-orang yang berminat pada lowongan pekerjaan ini tentu harus berpikir panjang, apakah mereka memenuhi syarat-syarat itu. Karena jika tidak sesuai dengan persyaratan, impian untuk mendapatkan pekerjaan itu wajib dikubur dalam-dalam.

Sadar tidak sadar, persyaratan yang ditentukan empunya usaha ini selain memberi batasan yang sangat jelas tentang orang macam apa yang ia inginkan, juga telah menutup peluang bagi beberapa kalangan. Karena tentu saja tak semua orang berwajah dan berpenampilan menarik. Tak semua orang punya tinggi badan ideal, terutama dalam pandangan umum Indonesia: mereka yang bertungkai panjang, berbadan sintal dan dada berisi, berkulit putih, dan berhidung mancung lah yang menarik dan membuat pandangan mata diam abadi.

Karena persyaratan semacam ini pula –dan khalayak memang menginginkannya—di Indonesia hanya mereka yang menarik lah yang bisa ditemukan dalam sektor-sektor usaha, terutama pelayanan publik dan jasa, yang bisa mendapat pekerjaan. Jadinya, dari pramusaji, pegawai hotel, sales asuransi dan farmasi, hingga pramugari, tentulah mereka yang dinilai menarik, sehingga akan berdampak pada kemenangan persaingan usaha.

Namun, tak hanya orang Indonesia yang berpikiran demikian. Jika kita punya kesempatan bepergian ke luar negeri, maka di maskapai-maskapai penerbangan asing, terutama Asia, pramugari yang bekerja rata-rata mereka yang sesuai dan mewakili stigma serta imajinasi kemenarikan fisik itu. Di maskapai penerbangan seperti Korean Airlines misalnya, para pramugarinya selalu berusia muda, bertungkai panjang, langsing, berbibir tipis, berhidung mancung, dan bertubuh padat berisi. Para pramugari ini kian menarik dan membuat mata malas berkedip ketika senyum tak pernah berhenti mereka mekarkan dari bibir tipis nan ranum itu.

Sepanjang perjalanan Jakarta-Incheon, Korea Selatan, para pramugari ini dengan sangat ramah melayani para penumpang. Bahasa Inggris khas Asia yang mereka kemukakan kadang membuat orang tak paham apa yang dibicarakan. Tapi apalah arti semua itu, ketika keindahan yang dibingkai stigma kemenarikan khas Indonesia –atau Asia—itu ada di depan mata?

Semua itu berlanjut ketika perjalanan dari Incheon berganti maskapai penerbangan. Perusahaan penerbangan Jepang biasanya “menyajikan” pemandangan relatif sama dengan yang diberikan Korean Airlines. Para pramugari Jepang juga berwajah menarik dan ramah. Apa pun yang diminta para penumpang segera mereka penuhi. Komunikasi dengan bahasa Inggris yang kadang pelo itu juga tak banyak mengganggu.

Namun hal berbeda terjadi ketika perjalanan Narita-Washington DC berlangsung menggunakan pesawat milik maskapai penerbangan United Airlines. Di perusahaan milik Amerika ini, jarang –atau sama sekali tidak ada-- pramugari yang sesuai dengan stigma kemenarikan khas Indonesia dan Asia. Mereka rata-rata berusia relatif tua dengan senyum ramah yang langka. Para pramugari ini berkomunikasi strike (langsung), tanpa basa-basi, dan bicara seadanya.

Jika kita mencoba meminta sesuatu yang mereka anggap mengada-ada, maka pra pramugari ini tak sungkan-sungkan untuk berbicara tegas dan menolak permintaan itu. Seorang teman asal Maluku yang di kampungnya menjabat sebagai dosen bagi program S1 dan S2 di berbagai perguruan tinggi, baik Islam maupun Kristen misalnya, merasakan langsung semprotan ketegasan khas pramugari di maskapai penerbangan Amerika. Sang teman meminta makanan yang hanya bisa dimakan orang Islam.

“Kami tidak menyediakan khusus makanan yang Anda minta. Jika Anda masih berkeras memintanya, lebih baik Anda menggunakan penerbangan yang lain. Di sini makanan yang adanya hanya ini. Anda bisa memilihnya sesuai keinginan Anda. Jika makanan yang Anda minta tidak ada, kami tak mungkin membuatnya ada,” kata sang pramugari itu. Tak ada yang bisa dilakukan sang teman selain tersenyum kecut sambil terkaget-kaget dengan perkataan pramugari penerbangan Amerika itu. “Sudah tua, sangar lagi,” bisik sang teman itu.

Teman dari Maluku ini terheran-heran, mengapa penerbangan dengan menggunakan pesawat bagus dan canggih itu justru mempekerjakan pramugari berwajah dan berbodi tak menarik. Sang teman rupanya lupa, di Amerika semua orang punya hak terhadap pekerjaan apa pun sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Persyaratan-persyaratan seperti wajah dan tubuh menarik, bertinggi badan tertentu, dan sejenisnya, merupakan bentuk diskriminasi. Karena itu, di Amerika tak akan pernah ditemukan ada iklan lowongan pekerjaan seperti yang jamak di koran-koran di Indonesia.

Tuesday, July 7, 2009

Tuba yang Kau Tumpahkan...


Kudengar terbata-bata seorang kawan dari pedalaman mengabarkan dukanya usai bertemu orang-orang yang rumahnya dikepung perkebunan sawit di Kotawaringin Timur. Selama dua hari dua malam, ia dan seorang Damang (Kepala Adat di Kalimantan Tengah) naik sepeda motor melintasi jalan penuh kubangan. Ia dan sang Damang --saya bertemu dengan Damang ini dalam sebuah pelatihan tentang Dasar-dasar HAM di Palangka Raya-- menembus jalanan yang di kiri kanannya penuh sawit untuk menyaksikan dan mendengar langsung apa yang telah terjadi di pedalaman. "Habis Le (sebutan akrab pada sesama orang Dayak yang usianya sebaya). Habis, semua sudah habis," katanya lirih.

Tak kuasa, airmataku menetes mendengar suara terbata-bata itu. Aku yang berada di Banjarmasin, tempat numpang mencari makan, tak kuasa mengeluarkan kata. Yang singgah di depan mata adalah rimba raya yang kukira tinggal dongeng masa silam untuk generasi kini. Kesombongan manusia yang datang dari kota, membuatku memendam dendam. Aku merindukan Tuhan murka, dan menerbitkan Sodom Gomora di atas perkebunan sawit, pada mereka yang telah membuat suara kawanku terbata-bata yang mengabarkan semuanya telah habis. Pada mereka yang telah menghancurkan segalanya...menghancurkan budaya..menuba kearifan lokal dengan uang dan materi...

Thursday, January 15, 2009

Caleg Golkar Dibui




BANJARMASIN – Polisi menetapkan Bambang Haryono Arisudewo (58) caleg Partai Golkar Kalsel nomor urut 10 Dapil Banjarmasin Selatan sebagai tersangka.
Sebelumnya melalui kader bidang hukum, Karli Hanafi Kalianda, Golkar ingin persoalan yang menimpa calegnya itu diselesaikan secara damai dengan keluarga H Syahril Effendi, korban tewas setelah sepeda motornya ditabrak mobil Kijang warna kuning milik Partai Golkar Kalsel.

“Kasus tabrakan maut antara mobil Kijang warna kuning yang dikendarai Bambang dan menewaskan H Syahril Effendi, proses hukunya terus berlanjut sampai ke pengadilan. Bambang sudah ditetapkan tersangka dan ditahan. Tidak ada pilih kasih. Yang bersalah akan tetap diproses hukum,” kata Kanit Laka Poltabes, Ipda Soegiarto, kepada Sinar Kalimantan, Selasa (23/12).

Pantauan koran ini, caleg Golkar itu terlihat mendekam dalam sel rutan Poltabes. Pihak petugas rutan memperlakukannya sama dengan para tersangka lainnya. Beberapa petugas terlihat menjalankan tugasnya seperti biasa. “Tidak ada tahanan yang diistimewakan petugas. Memang ada beberapa kali keluarga Bambang menjenguk,” kata Soegiarto.

Menurut Ipda Soegiarto, jika upaya damai itu ditujukan pada polisi, pihaknya tidak menerima hal itu. “Bambang diduga melakukan kesalahan dengan menabrak korban, bahkan korban sempat terseret sepanjang 25 meter dari tempat asal mula terjadi tabrakan. Dari itu saja sudah diduga saat mengendarai mobil dia lalai tanpa memperhatikan keselamatan warga pengguna jalan lain.”

Mobil Kijang warna kuning ini diamankan di halaman parkir Mapoltabes dan dijadikan barang bukti. Kepada pelaku, kata Kanit, dikenakan pasal 359 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun.

Seperti yang ditulis Sinar Kalimantan, Selasa (23/12), istri Kasubdin Pendidikan Menengah Disdik Kalsel, Almarhum H Syharil Effendi, Ny Hermiati (45), menyatakan belum pernah didatangi orang-orang Partai Golkar untuk berdamai dan menyampaikan belasungkawa. Keluarga, kata Ny Hermiati, memilih penyelesaian melalui jalur hukum. rds/SK

Golkar Kalsel Bohong




BANJARMASIN – Partai Golkar Kalsel, Senin (22/12), mengaku telah mendekati keluarga H Syahril Effendi (45), korban yang tewas setelah ditabrak mobil Kijang warna kuning dikendarai Bambang Haryono Arisudewo (58), caleg nomor urut 10 Dapil Banjarmasin Selatan itu, Jumat (19/12) dini hari. Pendekatan itu dilakukan agar kasus ini diselesaikan secara damai.

“Kita sudah dua kali berupaya melakukan pendekatan kepada pihak keluarga koban. Atas kejadian ini kita meminta perdamaian, karena musibah itu sama sekali tidak dikehendaki,” kata Karli Hanafi Kalianda, kader Golkar Kalsel bidang hukum.

Namun, Hermiati (45), istri Kasubdin Pendidikan Menengah Disdik Kalsel yang tewas itu, mengaku belum pernah didatangi orang-orang Partai Golkar. Hermiati dan keluarga besarnya memilih penyelesaian melalui jalur hukum. “Setelah kejadian itu, Golkar tidak pernah menghubungi apalagi mendatangi kami memberikan ucapan belasungkawa,” kata Hermiati kepada Sinar Kalimantan, Senin (22/12).

Seperti yang ditulis koran ini, Sabtu (19/12), H Syahril Effendi (45), warga Jl Gatot Subroto Gg Pala RT 25, Banjarmasin Timur, tewas diterjang mobil jenis Kijang warna kuning milik Partai Golkar Kalsel di Jl Gatot Subroto, depan Wijaya Service Mobil, Banjarmasin Timur, Jumat (19/12) dini hari sekitar pukul 00.30 Wita.

Korban menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan menuju RSUD Ulin akibat luka di kepala dan wajah setelah terseret mobil sepanjang 25 meter. Sopir mobil, Bambang Haryono Arisudewo (58), warga Jl Sultan Adam, Komplek Perkasa Indah RT 21 No B 54, Banjarmasin Utara, merupakan caleg partai beringin dengan nomor urut 10 Dapil Banjarmasin Selatan.

Setelah peristiwa itu, Bambang menyerahkan diri ke petugas Satlantas Poltabes. Sedang mobil kijangnya, DA 7054 AE, dan sepeda motor Honda Beat warna merah, DA 6627 EA, milik korban yang rusak berat, diamankan.

Menurut Karli Hanafi Kalianda, upaya damai kepada keluarga korban masih belum ada hasilnya. “Sampai saat ini memang belum ada hasil. Namun dari kejadian itu caleg kita sudah bertanggung jawab di depan hukum,” katanya.

Menurutnya Karli, proses hukum sudah diserahkan kepada pihak berwajib untuk menindak lanjuti peristiwa tabrakan itu. Namun, ujar Karli, setidaknya permasalahan yang tidak disengaja ini bisa ditempuh dengan jalan kekeluargaan.

Sementara isteri korban, Hermiati (45), ketika ditemui Sinar Kalimantan di rumah duka, mengaku orang Golkar belum penah menemui atau menghubunginya. “Setelah kejadian itu, Golkar tidak pernah menghubungi, apalagi mendatangi kami untuk memberikan ucapan belasungkawa,” tutur Hermiati.

Mengenai upaya damai yang dimintai Partai Golkar, Hermiati bersama keluarganya lebih memilih jalur hukum. “Kita serahkan saja kepada hukum, yang penting bertindak adil,” katanya. djo/rds/SK

Kijang Golkar Tewaskan Pejabat Kalsel





BANJARMASIN- Kasubdin Pendidikan Menengah Disdik Kalsel, Syahril Effendi (45), warga Jl Gatot Subroto Gg Pala RT 25, Banjarmasin Timur, tewas diterjang kijang warna kuning milik Partai Golkar di Jl Gatot Subroto, depan Wijaya Service Mobil, Banjarmasin Timur, Jumat (19/12) dini hari sekitar pukul 00.30 Wita.

Korban menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam perjalanan menuju RSUD Ulin akibat luka di kepala dan wajah setelah terseret mobil sepanjang 25 meter. Sopir mobil, Bambang Haryono Arisudewo (58), warga Jl Sultan Adam, Komplek Perkasa Indah RT 21 No B54, Banjarmasin Utara, merupakan caleg partai beringin dengan nomor urut 10 dapil Banjarmasin Selatan.

Setelah tertabrak korban, Bambang menyerahkan diri ke petugas Satlantas Poltabes. Sedang mobil kijangnya, DA 7054 AE, dan sepeda motor Honda Beat warna merah, DA 6627 EA, milik korban yang rusak berat, diamankan.

Pengakuan Bambang kepada Sinar Kalimantan, dini hari itu ia mendapat tugas memasang bendera Partai Golkar untuk penyambutan kedatangan Ketua Umum DPP partai tersebut, Jusuf Kalla.

Dengan menggunakan mobil itu, seorang diri Bambang bermaksud pulang ke Sekretariat DPD Partai Golkar Kalsel, Jl Lambung Mangkurat, Banjarmasin Tengah, untuk mengambil beberapa bendera yang akan dipasang di sekitar Jl A Yani.

Karena terburu-buru, dari Jl A Yani melalui jalur Jl Gatot Subroto, mobil dipacu dengan kecepatan cukup tinggi. Terlebih lagi dini hari itu, jalan sudah lengang. Tepatnya di depan Wijaya Servis Mobil, karena hendak menghindari lubang, setir dibelokan ke arah kanan.

Namun tak disangka, ternyata di depan ada sepeda motor yang dikendarai korban. Benturan keras pun terjadi. Korban setelah ditabrak, sempat terseret sepanjang 25 meter. Sedang sopir mobil diduga tidak menyadarinya. Setelah satu ban bocor dan seperti ada menyeret sesuatu, barulah sang sopir menghentikan mobilnya.

Beberapa menit Bambang sempat berusaha mengeluarkan korban dari jepitan di bawah mobil kijangnya. Beruntung ada warga lewat membantu mengeluarkan tubuh korban. Dengan menggunakan mobil pikup warga itu, korban dilarikan ke RSUD Ulin. Namun belum sampai di tujuan, korban keburu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sementara Bambang, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, menyerahkan diri ke petugas Satlantas Poltabes. Dia terancam pasal 359 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. rds/SK

Saturday, January 3, 2009

Makam Pun Ikut Tergusur Sawit

PALANGKARAYA - Konflik lahan antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan sawit terus saja terjadi. Tidak hanya karena lahan perkebunan warga yang diklaim menjadi milik perkebunan, konflik makin menjadi karena lokasi-lokasi yang dianggap sakral seperti makam leluhur juga sering ikut tergusur.

Seperti laporan warga kepada aktivis yang tergabung dalam Save Our Borneo (SOB) belum lama ini. Sejumlah warga dari Desa Tanah Putih Kecamatan Talawang Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalteng mengadu karena kebun dan makam keluarga mereka digusur oleh salah satu perusahaan yang beroperasi di kawasan itu.

Koordinator SOB, Nordin mengatakan warga yang mengadu adalah Umbung bin Jahan(58) dan Tarang bin Udil(50). Mereka mengeluh karena pihak perusahaan belum merealisasikan janjinya mengembalikan tanah makam tersebut dan mengganti rugi kebun dan tanam tumbuh milik mereka.

"Umbung minta makam dikembalikan seperti semula dan ganti rugi kebun. Sedangkan Tarang minta makam keluarga mereka juga dikembalikan dan dilakukan tiwah atas kejadian itu. Mereka juga meminta perusahaan melakukan sumpah aday untuk tidak melakukan perbuatan merugikan masyarakat lagi dalam bentuk apapun," kata Nordin, Jumat (2/1).

Dijelaskan, penggusuran makam itu sebenarnya terjadi antara 2003-2004 lalu. Pembukaan lahan oleh perusahaan tersebut membuat delapan makam dan sandung di lokasi yang disebut masyarakat setempat sebagai Padang Agung ikut diratakan.
Para ahli waris marah namun kebingungan karena sadar yang mereka hadapi adalah perusahaan besar. 9 Mei 2005 lalu sempat dilakukan pengecekan lapangan bersama-sama oleh perusahaan, masyarakat serta ahli warisnya.

Lokasi yang bermasalah, baik karena penggusuran makam, maupun tanah, kebun dan ladang masyarakat yang di gusur perusahaan tersebut terdapat di Blok D30T, D31T, E31T, E32T, E34T dan D35T. Namun belum ada tindak lanjut dari hasil pengecekan tersebut sehingga ahli waris terus menuntut.

Senin, 21 Juli 2008 lalu Umbung mengirimkan surat kepada Camat Talawang yang intinya telah terjadi perataan-penggusuran sewenang-wenang oleh perusahaan. Makam tersebut milik orangtua dan kerabat Jaruh, Anoi, Moni, Mido, Wesi dan Irik.

"Mereka berharap pemerintah daerah tidak tutup mata terhadap masalah ini. Para ahli waris juga berencana mengadukan perbuatan pidana perusakan kuburan tersebut ke polisi. Mereka berharp kepolisian juga bersikap adil meski yang dilaporkan adalah perusahaan besar," kata Nordin.

Sebelumnya Gubernur Agustin Teras Narang meminta perusahaan yang beroperasi di Kalteng mencari jalan tengah jika terjadi konflik lahan dengan masyarakat. Jika ternyata terdapat makam atau situs budaya dalam kawasan maka hendaknya tetap diamankan dan tidak diganggu.

Monday, December 15, 2008

Damang Masih Dipandang Sebelah Mata

Berita di Harian Sinar Kalimantan, Sabtu 2 Desember 2008

PALANGKA RAYA - Posisi Damang/Kepala Adat selama ini masih dianggap sebelah mata dalam setiap pengambilan keputusan. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat lembaga Kedemangan merupakan institusi tertua di tengah masyarakat Indonesia yang menjujung tinggi nilai-nilai budaya.

“Damang harus memiliki posisi tawar dan memiliki kesamaan persepsi,” kata Setia Budhi, Direktur Eksekutif Centre for Reseach and Development Studies ( CRDS) kepada Sinar Kalimantan di Palangka Raya, kemarin.

Menurut dia, di berbagai daerah di Kalimantan, posisi Damang sering terjepit ketika harus berhadapan dengan investor yang didukung pemerintah daerah.
Di daerah rawan konflik kepemilikan tanah, posisi Damang selalu berada di pihak yang kalah karena tekanan penguasa dan pemodal besar. Dengan pertimbangan tersebut CRDS berupaya memberikan bimbingan dan pedampingan kepada Damang Kepala Adat yang wilayah kerjanya rawan gesekan kepentingan investor.

Damang Kepala Adat, kata Setia Budhi, harus di bekali pengetahuan seiring dengan perkembangan jaman. Seperti meningkatnya konflik tanah menyusul masuknya investor ke daerah ini. “Selama ini hak-hak Damang banyak terabaikan.” katanya.

Direktur Program CRDS, Budi Kurniawan menyatakan pihaknya siap mengadakan pendampingan bila para Damang/Kepala Adat terlibat konflik dengan investor menyangkut kepemilikan tanah di daerahnya. Saat ini CRDS memfokuskan pendampingan pada masyarakat adat di Daerah Aliran Sungai (DAS). “CRDS memiliki komitmen tinggi terhadap kearifan lokal,” kata Budi Kurniawan.

Dalam rangka memberdayakan posisi Damang CRDS menyelenggarakan pelatihan dasar-dasar HAM bagi Damang di daerah konflik di wilayah Kalteng dan Kalsel. Pelatihan dilaksanakan di Hotel Batu Suli Palangka Raya, mulai Senin (1/12) hingga Jum’at
(5/12). bgz/SK

Tuesday, December 9, 2008

Ketika Mereka Menghakimi Dayak


Oleh : Budi Kurniawan

Bertahun-tahun kerusuhan antar etnis
Dayak-Madura di Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan
Tengah, telah berlalu. Tragedi paling berdarah di bumi
Kalimantan ini menyebabkan 90.000 orang Madura
terpaksa mengungsi pulang ke kampung halamannya.
Seperti puluhan orang Dayak lainnya di Sampit,
sebagian dari orang Madura itu tewas.

Konflik etnis ini tak sekadar menyentakkan. Tetapi
juga memunculkan kembali diskursus dan kontoversi
terhadap orang Dayak yang selama pemerintahan Belanda
di Indonesia sebagai suku terasing, tidak beradab,
barbarian, kanibal, dan biasa mengayau (memotong
kepala musuh dalam peperangan) ke permukaan.
Stigmanisasi Belanda ini “berhasil” menyesatkan
pandangan suku-suku lain di Nusantara terhadap orang
Dayak. Hingga kini misalnya anak-anak di Pulau Jawa
yang lahir pada era 1970-an percaya bahwa orang Dayak
itu berekor, haus darah, dan dilingkupi kehidupan
black magic yang pekat.

Penyesatan persepsi inilah yang dilakukan Michael
Theophile Hubert (MTH) Perelaer (1831-1901) dalam buku
yang ditulisnya dan diterjemahkan oleh Helius
Sjamsuddin ini. Perelaer yang pernah ambil bagian
dalam Perang Banjarmasin (1859) sebagai opsir Belanda
dan diangkat sebagai Civiel Gezaghebber (pejabat
sipil) di daerah Groote en Kleine Dajak --kini
Kalimantan Tengah-- (1860) ini di hampir seluruh
bagian buku yang ditulisnya menggambarkan dengan
sangat mumpuni keindahan rimba raya Borneo beserta
sungai-sungai yang bersih dan berarus deras mengalir.
Tentu sebelum ganasnya gergaji dan raung bulldozer
milik kaum kapitalis dari kota meluluh-lantakkan wajah
dan perut bumi.

Melalui kacamata empat serdadu Pemerintah Kolonial
Belanda (dua Swiss, satu Belgia, dan satu Indo beribu
Nias) yang minggat dari benteng Kuala Kapuas,
melakukan perjalanan selama 70 hari menembus belantara
Borneo dari utara ke Selatan melalui segala
marabahaya, dan tidak mau lagi menjalankan tugas
kemiliteran (desersi) karena merasa ditipu oleh
Pemerintah Belanda yang memberi janji penghasilan
melimpah saat mereka ditugaskan, Perelaer juga
berkisah tentang kebudayaan, mitos, jipen (denda
adat), perkawinan, persaudaraan dan kekerabatan, dan
ketajaman mandau Dayak Punan memenggal kepala
musuh-musuhnya.

Namun yang paling banyak dikisahkah Perelear adalah
hal yang terakhir. Di mata Perelear, kayau menjadi
bukti barbarianisme tumbuh, berkembang, dan menjadi
mesin pembunuh yang sangat efektif di kalangan orang
Dayak pada abad ke-19. Hampir di semua bab novelnya
(19 Bab), Perelear menggambarkan bagaimana kayau
berlangsung. Sayangnya Perelear lupa (?) –mungkin
karena buku ini bersifat novel-- menjelaskan mengapa
kayau hidup, berkembang, dan juga menjadi sarana
perlawanan terhadap kekuasaan kolonial selain menjadi
medium penaklukan dan lambang keperkasaan.

Namun tidak sekali ini saja penulis-penulis Belanda
–juga orang asing lainnya—menggambarkan dengan sangat
tidak sempurna dan cenderung mendiskreditkan orang
Dayak dan kayau-nya.

Buku berbahasa Prancis yang ditulis Jean-Yves Domalain
(1971) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh
Len Ortzen berjudul Panjamon: I was a Headhunter
(Morrow, New York, 1973) pun demikian. Sebuah buku
yang berkisah tentang kayau terakhir (mungkin). Buku
ini lebih banyak memuat fantasi sang petualang (turis)
Domalain. Karena itu tidaklah mengherankan Library of
Congress (AS) membuat subjek buku ini sebagai
Borneo- Description and Travel yang secara tak
langsung menunjukkan kualitas buku ini tak lebih dari
sekadar iklan untuk turis yang keranjingan bepergian
ke tempat-tempat “eksotik”, liar, primitif, dan
menyeramkan. Terutama dalam menantang marabahaya
kayau.

Sama halnya dengan buku Wyn Sargent, My Life with the
Headhunters yang diterbitkan Garden City, New York,
Doubleday, 1974. Seorang Dayak Ngaju perantauan
menceritakan, Gubernur Kalteng WA Gara pernah terpaksa
mengusir Wyn Sargent, wartawan petualang asal Virginia
ini, karena menulis di koran dan tabloid di Amerika,
dan memberi wawancara bahwa dia tinggal di betang
(rumah panjang tempat beberapa keluarga Dayak tinggal
bersama denga guyub) bersama para pengayau dan
melakukan sex orgy setiap malam.

Dalam bukunya Sargent menceritakan hengkang dari
Borneo, ibu seorang putera (waktu itu berusia 11
tahun) kembali berpetualang ke Lembah Baliem, Papua
Barat. Di sini dia mengaku kawin dengan kepala suku
Bahorok atau O'Bahorok. Sargent kembali membuat
sensasi dengan gambar-gambar pesta perkawinan yang
sebenarnya cuma pesta biasa di kalangan
orang-orang Bahorok selesai musim tanam. Sargent
mengklaim gambar-gambar itu sebagai pesta
perkawinannya dengang sang kepala suku. Sargent
kembali membumbui kisahnya dengan sex orgy seperti
yang dilakukannya di Borneo. Dengan cara demikian
Sargent melengkapi fantasi keprimitifan Borneo dan
Papua bagi para pembaca buku-buku berbahasa Inggris di
Amerika dan Eropa.

Penguasa kolonial dan turis menggunakan ketidaktahuan
–bisa jadi karena kesengajaannya—berkisah dan
melebih-lebihkan kenyataan yang ada agar orang
membayangkan Borneo –juga Papua-- sebagai tempat
primitive. Kayau di tangan mereka dibumbui dengan
cerita-cerita lisan yang menggambarkannya sebagai kegiatan
perorangan yg meneror komunitas
lokal maupun seberang sana. Mereka tak pernah berkisah
alasan di balik propaganda kayau sebagai medium
perang psikologis, pertahanan, dan reaksi terhadap
sesuatu yang sudah berlangsung kelewat batas.

Prof Andrew P Vayda dalam bukunya War in Ecological
Perspective: Persistence, Change, and Adaptive
Processes in Three Oceanian Societies (1976)
mengungkapkan bagaimana upaya propaganda menjadi alat
pertahanan komunitas maupun tribal nation setempat
untuk mengamankan wilayahnya dari para pengganggu
keseimbangan hidup dan kearifan lokal yang sudah
berlangsung dan terpelihara sekian lama.

Perelear mungkin lupa bahwa orang Dayak bisa juga
menjadi lebih beradab dengan saling berdamai dan
menghentikan pertikaian yang berlangsung ratusan tahun
melalui sebuah rapat besar yang dihadiri oleh para
utusan dari 400 kelompok Suku Dayak di seluruh
Kalimantan di Desa Tumbang Anoi, Kahayan Hulu Utara,
Kalimantan Tengah, pada 22 Mei -24 Juli 1894.

Pertikaian yang berlumuran adat kebiasaan lama yang
sudah terlanjur membudaya, berurat berakar warisan
negatif dalam bentuk asang-maasang (perang suku),
bunu-habunu (saling membunuh), kayau-mangayau (saling
penggal kepala), dan jipen-hajipen (saling mendenda),
berganti menjadi suasana yang penuh getaran semangat
pembaharuan dan persaudaraan yang pekat akibat Pakat
Tumbang Anoi itu.

Lalu jika kayau terjadi dalam konflik etnis di Sampit
silam, tentu penyebabnya adalah sesuatu yang
maha luar biasa. Hanya sesuatu yang maha dahsyatlah
yang bisa membangkitkan reaksi orang Dayak dalam
bentuk mangayau musuhnya itu hidup kembali.
Ketidakadilan dan pemihakan kekuasaan yang
meminggirkan hak-hak orang Dayak lah yang sesungguhnya
menjadi penyebabnya. Kayau dalam bentuk modern
(korupsi, diskriminasi, penjarahan kekayaan rimba raya
Borneo dan seterusnya) justru lebih berbahaya dari
kayau yang sudah lindap pasca Pakat Tumbang Anoi 1894.

Friday, December 5, 2008

Senja Kala di Tanah Dayak


Genosida budaya berlangsung sistematis. Kapitalis besar tak hanya merampas tanah. Tapi juga membunuh segalanya. Lembaga Kedamangan dan keberlangsungan adat terancam. Perlawanan harus dilakukan.

Oleh : Budi Kurniawan

Pada suatu masa, hiduplah seekor monyet dan kura-kura –orang Dayak di Kalimantan Tengah menyebut dua binatang ini, bakei dan kelep. Untuk bertahan hidup keduanya sepakat menanam pisang. Karena bisa memanjat dengan mudah, hanya monyet yang bisa menikmati kala pisang yang berbiji yang ditanam itu berbuah.

Melihat prilaku buruk monyet, kura-kura protes. “Bakei nenga aku bua pisang te (Monyet, berikanlah aku buah pisang itu),” kata kura-kura dalam bahasa Kapuas –banyak orang menyebutnya sebagai bahasa Kahayan.

Monyet di puncak pohon pisang bergeming. Ia asyik terus menikmati manisnya buah pisah yang ditanamnya bersama kura-kura. “Mangat bua tuh kelep (buah pisang ini enak sekali),” kata monyet.

“Mun dia bua, upak a barangai (kalau tidak bisa buahnya, kulitnya juga boleh),” kata kura-kura.
“Upak a gin mangat (kulitnya pun enak.”
“Mun dia tau upak ah, bawak a barangai (kalau tidak bisa kulitnya, bijinya juga boleh).”

Permintaan kura-kura tak berjawab. Kura-kura yang jengkel kemudian menyusun siasat. Ia memiringkan tubuhnya dan mengarahkan sisi rumahnya di bawah pohon pisang. Sementara monyet yang keasyikan menikmati buah pisang tak menyadari bahaya yang menanti di bawah. Saat ingin mengambil kembali buah pisang, tangannya tak sampai. Keseimbangan tubuhnya pun goyah. Tak ayal, tubuh monyet pun jatuh deras menimpa sisi rumah kura-kura yang tajam. Darah pun berhamburan. Monyet pun tewas.

Kisah yang hingga kini sudah jarang terdengar di antara komunitas Dayak di Kalimantan Tengah diceritakan Damang Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas, Punding W Daron, dalam Pelatihan Dasar-Dasar Hak Asasi Manusia untuk Damang Kepala Adat Kalteng dan Kalsel yang berlangsung di Palangka Raya pada 1-5 Desember 2008. Pelatihan yang digagas Center for Research Development Studies, Banjarmasin, ini diikuti para Damang dan Kepala Adat dari lima daerah aliran sungai berbeda di Kalselteng.

“Apa yang jadi pesan dari kisah ini. Nasib kura-kura sama dengan orang Dayak. Orang Dayak yang tertipu berkali-kali baru bisa memperoleh haknya setelah berjuang dengan sangat keras,” kata Punding W Daron.

Ya, budaya Dayak di seluruh Kalimantan sesungguhnya sedang berada di ujung senjakala. Derasnya globalisasi menghantam eksistensi Dayak beserta seluruh bagian adatnya. Masyarakat adat terancam. Ancaman ini juga datang dari derasnya suku bangsa lain yang datang ke tanah Dayak dan tidak mengindahkan –juga menghormati—semua budaya yang telah hidup dan berakar.

Dalam sebuah perjalanan ke Palangkaraya, ibukota Provinsi Kalteng, saya mendengar sayup-sayup sampai musik dengan gending Jawa mengudara di sela acara sebuah pernikahan. Tak hanya itu, bahasa Ngaju yang sudah ratusan tahun hidup pun diganti bahasa Banjar yang disebarkan dengan sangat ekspansif oleh para penuturnya.

Persoalan kian pelik ketika kapitalisasi perkebunan sawit merajalela. Di pinggiran jalan trans Kalimantan kini membentang luas perkebunan sawit. Semua ini sungguh kontras ketika hutan rimba masih meraja memenuhi tanah Kalimantan.

Penguasa rupanya mendewakan angka pertumbuhan ekonomi sebagai gambaran keberhasilan pembangunan, lalu menapikkan manusia dan hak adat. Sawit menjelma menjadi sektor penting mendatangkan investor. Logika investor datang membawa pundi-pundi uang, menanamkannya, memberi berkah, kebaikan, dan pendapatan diyakini para penguasa. Soal bagaimana lingkungan porak-poranda, hutan yang beralih fungsi, rusaknya tatanan sosial dan budaya, dan berada di tubir jurangnya kearifan lokal menjadi hal yang tak pernah dihitung. Benda dan uang menjelma menjadi “Tuhan” baru yang diyakini bisa menentukan dan membeli apapun.

Kini di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan terdapat 1,8 juta hektare program sawit dan enam juta hektare untuk pengembangan biofuel; di Kalimantan Tengah saat ini ada 334 izin perkebunan kelapa sawit yang telah dikeluarkan dengan luas areal yang dicadangkan mencapai 4,2 juta hektare. Dari jumlah itu, yang beroperasi baru 130 izin dengan luas areal 600 ribu hektare dan sisanya sebanyak 204 izin belum operasional. Data Departemen Kehutanan hingga Desember 2006 ada pencadangan pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan di Kalimantan seluas 4,3 juta hektare. Dari luas itu yang terealisasi menjadi perkebunan 373.303 hektare dan yang belum termanfaatkan 3,9 juta hektare.

Secara nasional hingga tahun 2006, luas perkebunan kelapa sawit telah mencapai 6.04 juta hektare dengan laju tanam rata-rata dalam waktu lima tahun (1999-2004) mencapai 400,100 ha per tahun (Sawit Watch, 2006). Produksi CPO Indonesia mencapai 16,17 juta ton dibandingkan Malaysia yang hanya 15,88 juta ton (Investor Daily, 01/02/2007). Struktur produksi bisnis minyak sawit dikuasai dan berasal dari 27 grup besar mengendalikan sekitar 600 anak perusahaan yang tersebar di 19 provinsi dan dikembangkan dengan distribusi 50% milik swasta, 33% petani kecil penghasil buah, dan 17% BUMN (Deptan, 2006). Dari segi investasi, hampir 45% berasal dari Malaysia.

Ekspansi besar-besaran ini akhirnya bermuara pada konflik perusahaan versus masyarakat adat, hukum positif versus hukum adat, dan genosida budaya. Hampir di semua daerah yang dimasuki para investor konflik lahan terjadi. Sampai tahun 2006, terdapat 140 kasus yang melibatkan 353 komunitas di wilayah perkebunan yang melibatkan sesama masyarakat lokal atau dengan pendatang.

Sawit Watch mencatat, sekitar 70% dari 500 kasus perselisihan perkebunan besar swasta dan warga bersumber dari sengketa tanah. Di Kalimantan Tengah, ada sekitar 20 kasus sengketa yang dilaporkan. Konflik ini terjadi karena kesalahan sejak awal proses perizinan yang tak melibatkan warga sehingga terjadi tumpang tindih lahan. Ketika persoalan terjadi, para penegak hukum menafikkan hukum adat. Mereka lebih memilih menegakkan hukum positif. Padahal adat ada jauh sebelum republik ini berdiri.

Proses ini seperti mengulangi kesalahan fatal Orde Baru dengan Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare yang gagal dan menyengsarakan hingga kini. Soeharto dan menteri-menterinya membagi hutan Kalteng bak puzzle dari Jakarta, tanpa melihat di tanah yang mereka bagi itu hidup orang Dayak dengan seluruh potensi alam dan kearifan lokal yang mereka miliki. Konflik lahan kala itu dihadapi dengan senjata dan intimidasi.

Menarik apa yang dikatakan Darius Dubut, seorang Doktor yang bergerak dalam diam di pedalaman membela orang-orang Dayak, tentang betapa besarnya “api” dalam sawit. “Uluh Dayak bara tatu hiang a bihin, belum bara himba, upun kayu, metu dan sebagainya. Itah maimbul parei hong tana haru tau amun jadi balaku dengan liau. Himba lepah, sawit dumah, itah dia tau hindai babalian balaku izin dengan liau? Itah dia tau hindai manyambulut burung. Itah tau matei lepah (Orang Dayak sejak nenek moyang dulu, hidup dari hutan, kayu, binatang dan sebagainya. Kita menanam padi di ladang baru bisa dilakukan setelah menggelar upacara meminta izin pada roh. Ketika hutan hilang, dawit datang, kita tak lagi bisa menggelar upacara dan memuja alam. Kita tak bisa lagi menjebak burung di pohon. Kita akan binasa,” kata Darius. Senjakala sepertinya akan tiba di tanah Dayak.

Saturday, November 22, 2008

Salah Satu Edisi Koranku


Ini salah satu edisi koranku, Sinar Kalimantan

Friday, November 21, 2008

Monday, October 20, 2008

“In Memoriam” Pers Mahasiswa


Oleh: Budi Kurniawan (Aktivis Pers Mahasiswa Unlam 1990-1996.
E-mail: budibanjar@yahoo.com)

Dalam sebuah kesempatan, salah satu pendiri Harian KOMPAS Jakob Oetama menggambarkan dengan cerdas apa sesungguhnya peran pers yang paling mendasar dalam kehidupan umat manusia. Pers, kata Jakob, adalah cerminan zamannya. Ketika zaman berlangsung busuk, pers pun menampakkan semua kebusukan itu dengan sangat kasat mata. Demikian pula sebaliknya.

Karena itu ketika di hari-hari ini lembaran koran, tayangan televisi, dan acara radio diputar ulang, dengan jelas semua yang terjadi di era ketika semua produk jurnalistik itu dibuat menjadi berwujud. Wujudnya bisa berupa kisah sukses, kegagalan, prestasi gemilang, kesemrawutan hidup, kekuasaan yang lalim dan otoriter, kedzaliman satu kelompok terhadap kelompok yang lain, atau prilaku pengelola lembaga jurnalistik itu sendiri –dari yang pro dan menjilat kekuasaan hingga mereka yang memilih melawan.

Kadang tak perlu menengok jauh ke belakang pada rekam jejak pers sebagai cerminan zamannya. Ketika zaman sedang berlangsung dan pers itu tumbuh di dalamnya, cerminan itu pun bisa bening terlihat. Ketika kini misalnya media yang menjadikan gosip dibalut genre hiburan laku keras dimamah, itulah cerminan sebagian masyarakat yang sedang “sakit” dan suka menggunjingkan berbagai persoalan, dari soal dapur hingga ukuran payudara.

Logika pasar yang tercermin pada tinggi rendahnya rating menjadi “Tuhan” baru bagi media semacam ini. Soal ia menjadi cerminan zaman yang penuh gosip, itu tak jadi hitungan. Semuanya berpulang pada rating. Seorang rekan yang bekerja di sebuah televisi swasta mengeluhkan hal itu ketika berbincang di sebuah senja yang baru saja turun di antara belantara beton di Jakarta.

Tetapi industri sudah mengubah segalanya. Kini sudah tak ada lagi pers perjuangan seperti ketika Djok Mentaya melawan kesewenang-wenangan pemilik hotel yang menyebabkan tempurung lututnya pecah dan harus dijahit kawat baja. Atau ketika Pemimpin Redaksi Indonesia Raya, Mochtar Lubis mengepalkan perlawanan pada prilaku korupsi yang menggurita dan membuat orang malu menjadi orang Indonesia. Orang harus memilih: mengabdi, bertekuk lutut, atau menyiasati pasar. Kepentingan dan keberlangsungan napas bisnis turut menjadi pertimbangan. Apalagi pengalaman mengajarkan konsep, penyajian, dan kualitas media tak selamanya linier dengan kesuksesan bisnis.

Jika hal ini terjadi pada pers umum, hal ini mungkin masih bisa ditolerir adanya. Karena logika industri untuk menjadikan persnya sebagai mesin uang, itu bukanlah pilihan yang haram adanya. Tinggal pembaca yang memiliki hak otonom sangat luas pada pilihannya masing-masing itulah yang menentukan akan memilih (membeli) media macam apa sebagai bahan bacaannya.

Tetapi yang membuat miris adalah ketika pers mahasiswa –dulu disebut sebagai pers alternatif karena keberaniannya memberitakan sesuatu yang tidak berani diberitakan pers umum karena ancaman breidel dan kekuasaan yang lalim—justru tak lagi memiliki idealisme. Pers mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) misalnya memilih dibiayai oleh rektoratnya. Ujungnya tak ada “catatan kaki” yang mereka bisa lakukan terhadap dewa pemberi dana semacam itu. Yang ada adalah jilat-menjilat dan menampilkan semuanya seolah baik-baik saja dan tak ada persoalan sama sekali di kampusnya. Alasan bahwa pers mahasiswa semacam itu hanya menjadi medium komunikasi civitas akademika dan bukan mengorek berbagai “borok” yang ada menjadi dalil utama. Lalu apa yang diharapkan pada pers mahasiswa semacam itu? Dan kecerdasan apa yang didapatkan mahasiswa yang membaca pers semacam itu.

Padahal dalam berbagai teks disebut bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Melalui medium pers yang idealis, kontruktif, dan berani, mahasiswa harusnya kian menjejakkan kakinya sebagai agen perubahan. Inilah yang dulu digenggam erat oleh para aktivis pers mahasiswa ketika kekuasaan Orba sedang kuat-kuatnya.

Pada tataran lokal, hal ini diwakili oleh Djok Mentaya, HG Rusdi Effendi AR, Anang Adenansi, Rusli Desa dan kawan-kawan melalui Bulletin KAMI, Mimbar Mahasiswa, dan penerbitan lainnya. Pada tataran nasional ada Ismid Hadad dan kawan-kawan. Usai era 1960-an, ketika era 1970-an tiba, pers mahasiswa tak berubah. Idealisme yang kental tercermin pada berita dan tulisan yang mereka usung. Ini terus berlangsung hingga periode 1980-an, ketika kekuasaan Orde Baru sudah menemukan track-nya. Penentangan pada kehidupan kampus “dinormalisasikan” yang muncul pada era itu juga terus berlangsung melalui medium pers mahasiswa.

Idealisme ini juga dijaga penuh oleh kalangan aktivis pers mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat pada era 1990-an. Ketika itu selain pers mahasiswa tumbuh subur di seluruh fakultas (Warta Sylva/Fakultas Kehutanan, Suluh Pendidikan/FKIP, Yustisia/Fakultas Hukum, Economica/Fakultas Ekonomi, Ritter/Fakultas Teknik, INTR-O/FISIP, Minapuri/Perikanan), para aktivisnya pun bersuara keras pada berbagai kelaliman yang terjadi. Dari kelaliman lokal yang dilakukan fakultas masing-masing dan rektorat, hingga kelaliman yang dilakukan pemerintah Jakarta terhadap rakyat jelata dan mahasiswa.

Dengan bentuk semacam itu, pers mahasiswa Unlam –dan di kampus-kampus lainnya—benar-benar berani menempuh risiko. Bayangkan saja ketika Orde Baru dengan kaki tiga pendukung kekuasaannya (militer, bisnis, dan Golkar) sedang berada di puncak kekuasaannya, sebuah tabloid mahasiswa yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa FISIP Unlam menulis Laporan Utama berjudul “Menggugat Fungsi Sepatu Lars”. Laporan ini selain dipenuhi wawancara juga dilengkapi dengan kajian teori tentang bahayanya militerisme. Sebuah laporan yang dikemudian hari terbukti kebenarannya.

Keberanian para aktivis pers mahasiswa Unlam era itu kini berbanding terbalik dengan keadaan sekarang. Kini sebuah tabloid mahasiswa kembali hadir –setelah mati lebih dari 10 tahun—dengan konsep yang jauh dari nilai-nilai idealisme dan kebenaran. Baik secara filosofis aupun faktual. Mereka mengabdi pada kepentingan kekuasaan kampus. Mereka membayar semua biaya terbit yang diberikan kampus dengan menjual murah idealisme, menghina dan, mengkhianati sejarah panjang perlawanan pers mahasiswa.

Thursday, October 16, 2008

Kayuh Peluh


berkilau ditimpa cahaya berjuta
keluh melenguh
menjunjung langit borneo runtuh

kayuh lengan melepuh
melukis senyum di antara peluh
menantang hingga hulu nan jauh