Sunday, April 29, 2007

Kesetiaan...


Setia pada diri
Setia pada janji
Susuri jalan
Punguti mimpi
Menyusunnya di langit
Hingga kelam dimangsa terang...

Thursday, April 26, 2007

Private Call Number


Pagi ini, Jumat (27/4), telepon genggamku yang sudah butut itu berdering. Aku melihat di layar telepon, tertulis private call number. Biasanya aku tak akan mengangkat telepon jika di layarnya muncul tulisan semacam itu. Karena kupikir buat apa orang menelepon jika identitasnya disembunyikan. Kalau sudah begitu, pasti ada maksud tertentu di balik penyembunyian identitas itu. Kalau sudah sembunyi-sembunyi bisa jadi niat di balik itu buruk semata.

Tapi aku coba mengangkat telepon itu. Dan sebuah suara yang tegas terdengar. “Bung Budi, dimana saya bisa mendapatkan buku Bung. Buku “Menolak Menyerah, Menyingkap Tabir Keluarga Aidit” itu,” kata si penelepon.

Aku yang sering ditelepon berbagai orang sejak menulis buku tentang keluarga DN Aidit, ketua CC PKI, berpikir ulang untuk menjawab pertanyaan dari si penelepon tadi. Aku curiga ini telepon dari orang “pro” atau orang “kontra”? Tapi kupikir sudahlah, pro dan kontra kan kadang tidak perlu ada, dan kadang tidak banyak bermakna selain menambah lebar jurang perbedaan akibat sejarah masa silam nan penuh rekayasa.

Aku pun menjelaskan pada si penelepon. Buku pertama yang kutulis bersama Yani Andryansjah itu sudah habis di toko-toko buku. Kalau mau, aku bilang, coba kontak penerbitnya di Yogyakarta saja. Si penelepon menanggapi dan bercerita dia menyenangi buku “Melawan dengan Restoran” yang kutulis bersama Bang Sobron Aidit dan kini sedang beredar itu. Si penelepon bilang di masa lalu ia punya sangat banyak koleksi buku yang karena berbahaya terpaksa ia bakar. “Masa itu masa yang menyeramkan Bung. Saya terpaksa membakar semua buku koleksi saya,” katanya.

Mendengar itu aku terdiam sejenak. Lalu kubilang pada si penelepon, “saya turut sedih bung”. Tetapi ia hanya bilang, “nggak apa-apa Bung”. Aku pun mencoba bertanya pada si penelepon, “Bung dimana”.
“Saya di Jakarta.”
“Bisa ketemu kapan-kapan Bung.”
“Ah tidak usahlah Bung.”
“Saya boleh mendapatkan nomor telepon Bung? Karena di telepon genggam saya nomor Bung tidak muncul.”
“Tidak usahlah Bung. Kapan-kapan saya akan telepon Bung lagi. Terimakasih ya Bung.”
“Ok. Sampai ketemu dan tetap semangat ya Bung.”

Lalu si penelepon misterius itu pun menutup teleponnya. Aku pun bergegas menuju kantor yang pimpinannya kemarin mengabarkan padaku dan kawan-kawan bahwa gaji bulan ini belum bisa dibayar…

“Melawan dengan Restoran”



Dunia perlawanan sering dipenuhi jargon heroik dan metode njelimet. Berbagai teori --juga kisah-- mengenai dunia perlawanan selalu dibumbui beragam hal. Dari cara pengumpulan massa, bagaimana mengorganisirnya, hingga tujuan yang hendak dituju tercapai. Dunia perlawanan juga melahirkan beragam ikon. Baik yang ngepop, maupun yang membuat kening berkerut.

Buku ini sepenuhnya tak membuat kita sulit mencerna kisah dan aroma perlawanan yang ada di dalamnya. Buku yang berasal dari wawancara dan pendalaman dengan Sobron Aidit, adik kandung Ketua CC Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara Aidit, lebih banyak menceritakan tentang perlawanan dengan medium sederhana: restoran dan makanan.

Dari restoran yang hingga kini masih berdiri dan beraktivitas di Paris, Prancis, “kaum klayaban” melawan rezim Orde Baru pimpinan Soeharto. Di restoran ini juga banyak aktor perlawanan berkumpul. Tak hanya itu, restoran bernama Restoran Indonesia ini juga menjadi tempat para pelarian politik muda yang dikejar-kejar Orba berteduh. Budiman Sudjatmiko, Yeni Rosa Damayanti, dan Sri Bintang Pamungkas, turut merasakan amannya berteduh di restoran ini.

Kisah yang dituturkan dalam buku yang ditulis Sobron Aidit dan Budi Kurniawan secara ringan dan runtut dalam buku ini setidaknya bisa memberi inspirasi kepada kita bahwa melawan ternyata bisa dilakukan tanpa harus mengibarkan panji-panji kekerasan. Dengan makanan dan restoran pun perlawanan –juga penyadaran—bisa dilakukan.

Sobron's Fate Highlights Nation's Tragedy

By Aboeprijadi Santoso, Contributor The Jakarta Post, Amsterdam, publish February 16, 2007

Living in exile is a life "born out of blood, pain, sadness, anger and spirit", wrote Simon Sobron Aidit, 72, the exiled Indonesian poet who died on Feb. 10 in Paris. His utmost wish, he told Radio Netherlands two years ago, was that all victims of 1965-66 be fully rehabilitated. "They should be recognized as human beings," he said.

To many who knew Sobron in the 1960s, he was a famous poet, one of the best writers in the anthology Ketemu di Djalan (Meeting on the street). To others who met him in his later years in Europe, he was known and loved as a warm, friendly personality among Indonesian exiles in Paris and Amsterdam. And to Internet readers in recent years -- many of them from the younger generation -- he was known as Oom (uncle) Sobron, whose stories they enjoyed very much.

But to Soeharto's New Order government, Sobron Aidit was just a blacklisted name, a taboo. And for that reason alone, he, like hundreds of others who were allegedly involved in the 1965 coup attempt, was banned from his country. Born June 2, 1934, in Belitung, South Sumatra, Sobron, a language teacher, was sent by the Indonesian-Chinese Friendship Institute in the mid-'60s to Beijing (then Peking) to teach at the Academy of Foreign Languages.

On the fateful days following Sept. 30, 1965, like most Indonesians, he had but one question troubling his mind: what happened in Jakarta? "All we knew was that the political atmosphere was heightened. Didn't Bung Karno describe the situation as jor-joran revolusi (a fury of revolutionary calls)?"

Suddenly he recalled what his brother, D.N. Aidit, the chairman of the Indonesian Communist Party (PKI), had said when visiting Beijing only a month earlier. Bang (brother) Amat, as Sobron affectionately called him, had warned: "Be alert, something will happen that will shake our country, so please don't go home!" "That's all we knew," Sobron told his story 40 years later in
September 2005.

When a Cuban delegation later came to Beijing and conveyed Fidel Castro's message that D.N. Aidit had died, few among his friends believed it, but Sobron did. For him, it was also an omen. Late 1965, the bloodbath at home began. For Sobron and others like him, life radically changed afterwards.

He loved quoting Gus Dur's word klayaban (wandering) to describe his life, but quickly qualified it: not wandering around at will, but being forced to do so. Banned from one's own homeland is very painful, he said. We got old abroad, some even died because of the bitterness.

Sobron's Internet writings -- he wrote stories every day -- bear traces of such feelings. His sentiments may be understandable. At the same time, he had -- and wrote with -- a great sense of humor, sought friends and was open to the public, including his former adversaries.

In the view of Asahan Aidit, his younger brother, Sobron was "a literary diplomat". The spirit of revenge runs throughout his post-1965 writings, but he hid it or expressed it eloquently. His years in China was an unproductive period, but changes in Indonesia since 1998 and the emergence of the Internet liberated Sobron. He went home regularly and wrote more. Yet, neither his use of Indonesian (combined with the Jakarta dialect) nor the literary value of his works was really high, said noted writers Ajip Rosidi and even Asahan.

However, Sobron succeeded in turning himself into "a fabric of stories", producing an enormous amount of light and relaxed narratives that were easy to understand and entertaining. He did not write to argue, but to tell about his grandchildren, friends, food and other things of everyday life.

Once he related an anecdote he had with a barber in Indonesia. Having heard his name, the barber
told him that he was a killer of communists in the '60s. As the barber said that, the blade was poised to shave Sobron's stubble. Both smiled. Sobron "survived" and left the barber with another smile. Nurturing relationship through simple stories of everyday life may be the way he chose to humanize himself -- after all, he was too aware of how the 1965-66 victims were treated, that he wanted them to be recognized as human beings.

He argued that, as long as the decree banning leftist ideologies continued to exist, victims of the '60s could be, as he put it,"di-Munir-kan" -- that is, killed like the mysteriously poisoned human rights fighter Munir. Sobron went through a spiritual upheaval. Brought up in a pious Muslim family, he seemed less and less interested in religious rituals as he moved to Jakarta.

He was close to his eldest brother D.N. Aidit but, according to Asahan, Sobron had serious difficulties with Bang Amat's insistence that "politics is the commander" -- a style the Indonesian political left tried to impose in the '60s. Later, during his years of exiled in Europe, he turned to Christianity.

"Sobron cannot be a 'true ecommunist'," Asahan said, "just as he could not be a `truly religious' man. He remained himself. The only thing he could turn himself into was becoming a true writer -- which he did." It was this quality, his industriousness in creating stories, that attracted many
and demonstrated the significance of the Internet for marginalized groups like the exiles.

At a 2002 Washington conference, to which he was invited but could not attend, he praised mailing lists like John McDougall's Apakabar as a free arena. Soon he acquired a website and the Internet became his new "homeland".

Last week he fell unconscious while en route to the Internet cafe to post his stories -- and died the next day. His remains are scheduled to be cremated at the Pere Lachaise Cemetery in Paris, and his ashes will be placed in his wife's grave in Beijing and in his mother's grave in Belitung.

The tragedy of the mid-1960s has left deep impacts on Sobron's life, career and spirit. It has affected thousands of other "Sobrons" similarly, both in the past and in the present. The tragedy is a great challenge this nation -- which Sobron loved so much -- must face and resove. The writer is a journalist with Radio Netherlands.

Sobron Aidit dan Makna Sebuah Nama


Oleh Budi Kurniawan

Wartawan; Penulis Buku Menolak Menyerah, Menyingkap Tabir Keluarga Aidit (Tulisan ini dimuat Harian KOMPAS pada 25 Februari 2007)

"kau dan aku
hanya percaya dan setia
maka kita berdua bisa begitu"


Dering telepon tiada henti memecah malam yang beku di Friendship Hotel, pinggiran Beijing. Agak tergesa, lelaki 28 tahun itu meninggalkan buku-buku Indologie yang tekun ia baca. Pelan ia mengangkat gagang telepon. Lima menit pembicaraan berlangsung. Lalu semuanya jatuh dalam muram. Seketika ruang yang disediakan pemerintah Tiongkok untuk para ahli itu jatuh dalam suram.

Seorang teman yang baru pulang dari Havana, Kuba, membuat Sobron Aidit tercenung. Indologie (ilmu tentang keindonesiaan) yang disiapkan untuk mahasiswa tingkat tiga dan empat di Institut Bahasa Asing (IBA) Beijing, ia biarkan berserakan.

Keindahan Istana Musim Panas di sebelah hotel lenyap seketika. Kawan yang baru bertemu Fidel Castro itu mengabarkan bahwa abangnya, Dipa Nusantara (DN) Aidit, telah tewas terbunuh. Melalui sang kawan, pemimpin revolusi Kuba itu menyampaikan dukacita yang mendalam.

Sobron menahan marah, kehilangan, juga sedih. Baginya Bang Amat—demikian panggilan sayang Sobron pada abangnya itu—bukan sekadar abang. Ia tahu betul, DN Aidit sangat memerhatikan kehidupannya. Malam kian larut dan beku pada November 1966 itu.

Di antara kebekuan itu, Sobron teringat sebuah peristiwa bersama DN Aidit yang sangat berkesan baginya. Di suatu senja yang temaram, Bang Amat memanggil Sobron ke kantornya di Kramat Raya 81 (Kantor Pusat Partai Komunis Indonesia).

Bang Amat meminta Sobron menimbang-nimbang pencantuman nama Aidit di belakang namanya. Dia khawatir hal itu akan menjadi persoalan di kemudian hari, sebab nama itu akan berkonotasi PKI karena ketuanya bernama sama.

Mendengar permintaan itu, Sobron terdiam. Ia sadar apa yang dimaksudkan abangnya itu. Abangnya ingin ia terus berkembang dan tetap eksis dengan bakat budaya yang
ia miliki, tanpa harus terganggu dengan persoalan politik yang ingar-bingar dan
melelahkan itu.

Apalagi ketika itu Sobron dikenal khalayak sebagai sastrawan yang tulisannya menyebar di banyak media: Zenith, Sastra, Kisah, Republik, Harian Rakjat, Sunday Courier, dan Bintang Timur.

Di sepanjang jalan sebelum tiba di Kramat 81, Sobron mengira Bang Amat keberatan
ia menggunakan nama belakangnya. Padahal, nama Sobron Aidit sudah dipakainya jauh sebelum Bang Amat menjadi anggota petinggi PKI. Ia sudah memakai nama itu sejak 1948. Sedangkan Bang Amat baru menjadi ketua partai pada tahun 1951. Sobron tetap kukuh menggunakan nama Aidit di belakang namanya.

Ketika senja yang temaram ditelan malam, kepada Bang Amat, Sobron menolak permintaan Bang Amat untuk mengubah namanya. Apa pun alasannya. Dengan jujur pula Sobron menceritakan pikiran-pikiran salahnya di sepanjang jalan sebelum bertemu Bang Amat.

Sambil meminta maaf, Sobron memeluk Bang Amat. Bang Amat membalas pelukan itu dengan sangat erat. Air mata Sobron mengalir deras di sela peluk yang erat itu.

Bang Amat berbisik pada Sobron: "Baik, sangat baik, aku selalu percaya kepadamu, kau sangat jujur. Aku senang akanmu. Kau harus tahu lagi bahwa aku menaruh kepercayaan kepadamu. Sangat dan sangat. Ingat itu! Pegang eratlah kepercayaanku kepadamu. Aku sangat ingin melihatmu jadi orang. Jadi sastrawan yang baik. Kalau sanggup, menjadilah kebanggaan rakyat! Kalau tidak sanggup, jadilah sastrawan yang jujur dan memihak rakyat! Tapi selalulah jangan menipu, menyiksa, dan menindas rakyat. Kita ini adalah bagian rakyat yang luas. Tanpa kita, rakyat yang luas itu takkan apa-apa. Tapi kita tanpa mereka yang luas itu bukanlah apa-apa. Tak ada artinya."

Menjelang malam, sesudah dua kali makan di kantor itu, keduanya berpisah. Bagi Sobron, sekali inilah ia merasa paling lama berbicara dari hati ke hati dengan Bang Amat. Ia kian mengerti siapa sebenarnya abangnya itu. Begitu juga dengan Bang Amat, ia kian mengerti siapa adiknya yang ia katakan sangat dipercaya itu.

Kepercayaan yang pekat seperti yang ditulis Sobron dalam sebuah puisinya enam tahun lalu. Kau dan aku/hanya percaya dan setia/maka kita berdua bisa begitu.

Walau bersaudara dan menggunakan nama belakang yang sama, Sobron Aidit sungguh erbeda dengan DN Aidit. DN Aidit sangat fasih dalam soal politik. Sobron justru tak menyukai politik. Sobron lebih memilih bergerak di ranah budaya dan sastra.

Sobron membuktikan orientasinya itu dalam rentang waktu yang panjang. Sobron menulis berbagai karya sastra kala berusia 13 tahun. Cerpennya, Buaja dan Dukunnja, mendapatkan penghargaan dari majalah Kisah pada 1955-1956. Basimah, cerpennya yang lain, pada 1961 mendapat penghargaan dari Harian Rakjat.

Selain menulis karya-karya sastra, Sobron juga menjadi guru dan dosen. Bahkan, pada tahun 1963, Sobron dikirim pemerintah ketika itu menjadi dosen tamu di Beijing.

Soal pilihannya yang berbeda dengan sang abang ini, berkali-kali disampaikan Sobron kepadaku. Ketika diundang hadir dalam pertemuan dengan kawan-kawannya di sebuah rumah yang asri di kawasan Cibubur; pada peringatan ulang tahunnya yang ke-70 di Blok M; ketika peluncuran dua bukunya di Gedung Juang di Menteng, November tahun lalu, Sobron menegaskan penolakannya pada dunia politik. Politik, kata Sobron, bukan bidangnya. Tolong biarkan saya untuk terus berjuang melalui tulisan dan karya sastra, katanya kepadaku.

Komitmennya pada sesuatu, saya kira, menjadi satu hal yang membuat Sobron tegar
menghadapi segala dera dan coba. Ketika terempas oleh pusaran politik yang buram
di China; mengungsi ke Perancis dan lalu membuka restoran di Paris; menjadi "kaum kelayaban" dan orang terbuang yang hanya boleh datang, tetapi tak boleh pulang ke tanah airnya; Sobron menunjukkan ketegarannya.

Sobron memang keras hati pada sesuatu yang dianggapnya benar. Tetapi, dia juga
selalu ingin bersahabat dengan siapa pun, tak peduli warna kulit dan ideologi.

Semua komitmen, jalan panjang, dan kenangan Sobron Aidit terhadap segala hal
mencapai akhirnya pada pagi hari, 10 Februari 2007. Di usianya yang ke-73—lahir
pada 2 Juni 1934 di Belitung—Sobron berpulang setelah terjatuh di sebuah stasiun
kereta api bawah tanah di Perancis. Dia sempat dirawat di rumah sakit. Namun, Sang Khalik rupanya punya skenario lain. Selamat jalan sahabat yang terbuang...

Pesawat TNI AU = Bus Kota (Lagi)


Kalau naik pesawat TNI AU, ingat pesan Bang Napi...Waspadalah..Waspadalah..

Wednesday, April 25, 2007

Pesawat TNI AU = Bus Kota


Ini adalah pengalaman saya naik pesawat Boeing 737 milik TNI Angkatan Udara dari Makassar ke Jakarta. Bandara Sultan Hasanuddin dan agen penjualan tiket yang dikuasai para calo, membuat calon penumpang pesawat ke jurusan mana pun kesulitan mendapatkan tiket. Parahnya di bandara sudah menunggu para calo berambut cepak yang menawarkan tiket dan layanan setara pesawat komersial. Kadang mereka menyatakan pesawat yang akan digunakan para calon penumpang adalah yang dipakai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Karena itu fasilitasnya pun sama dengan pesawat komersial lainnya.

Tapi apa lacur, walau sudah membayar uang sebesar Rp900.000 (untuk perjalanan Makassar-Jakarta), calon penumpang tidak dijamin bisa naik pesawat. Karena untuk naik pesawat harus kuat-kuatan backing. Begitu penumpang yang mendesak harus sampai di Jakarta dalam waktu dekat, makin mahal harga yang harus dibayar dan harus makin kuat backing yang dimiliki. Kalau itu tidak dimiliki, niscaya tidak bisa naik pesawat dan terlantar di bandara.

Saya yang ketika itu baru tiba dari Pulau Selayar dan harus ke Jakarta pada hari yang sama terpaksa menggunakan pesawat TNI AU ini. Setelah berdesak-desakan, saya dan seorang teman bisa naik pesawat. Eh, sampai di atas pesawat, semua janji dari sang calo berambut cepak itu sekadar indah kabar dari rupa. Penumpang berjubel kaya ikan sarden. Penumpang terpaksa berdiri. Sebagian duduk di lantai. Saya takjub sambil berpikir ini justru menarik buat difoto dan dikisahkan.

Di dalam pesawat saya duduk di bawah. Sambil menggeserkan pantat memberi ruang buat seorang ibu tua. Saya berbincang dengan seorang penumpang yang naik pesawat dari Timika ke Surabaya. Dia bilang dia membayar Rp1,3 juta untuk naik pesawat. Hal yang sama juga diceritakan banyak penumpang. Intinya mereka terpaksa naik pesawat milik tentara ini karena sulit mendapat tiket. Dan yang tidak mereka duga adalah di dalam pesawat mereka --juga saya-- bertumpukkan bak sarden. Sementara para perwira TNI AU mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Tetapi para prajurit rendahan juga bernasib sama dengan para penumpang lainnya.

Soal keselamatan penerbangan, kenyamanan penumpang, pelanggaran peraturan, dan sebagainya menjadi nomor kesekian rupanya. Saya menduga, bisa jadi inilah cara para tentara mencari uang. Uang itu dibagi-bagi lagi kepada para atasan dan pihak lainnya. Ini memang negeri para penipu!!!