Monday, April 7, 2008

Sosok Tangguh itu Berpulang


Murad Aidit, adik mendiang Ketua CC PKI Dipa Nusantara Aidit, meninggal dalam usia 81 tahun di Depok, Jawa Barat, Sabtu (29/3) pukul 4.45 WIB. Obituari tokoh yang kurang populer ini dikirim Ibarruri binti DN Aidit ke mailing list Wahana-News.

"Telah meninggalkan kita dengan tenang Oom kami yang tercinta, Murad Aidit. Pemakamannya akan dilakukan hari ini juga," tulis Ibarruri yang mencantumkan namanya sebagai I.sudharsono.

Mailing list atau ruang diskusi maya ini juga diikuti Asahan Aidit, satu-satunya adik Adit yang masih hidup. Sesudah itu, muncul sederet ucapan bela sungkawa. Joesoef Isak dari penerbit Hasta Mitra menulis, "Selamat Jalan kawanku satu cel. Kepada yang dia tinggalkan, tabah dan terus melanjutkan kerja yang belum selesai."

Seorang kolega mendiang Murad lainnya lantas mengenang kebersamaannya selama 1961-1965 sebagai mahasiswa di Uni Soviet. Katanya, Murad tekun belajar, tangguh berorganisasi dan setia pada cita-cita mulia. "Patut kita warisi demi melanjutkan usaha mewujudkan cita-cita yang terbengkalai itu," tulisnya.

Saya pernah sekali mewawancarai Murad sewaktu adiknya, Sobron Aidit, meninggal dalam usia 72 tahun di Paris, 10 Februari 2007. "Lha iya, dia adik saya, malah meninggal duluan," kata Murad saat itu.

Sobron meninggal setelah terjatuh di stasiun kereta bawah tanah di Paris. Sekira dua bulan sebelumnya, Sobron pergi ke Jakarta untuk peluncuran buku bersama-sama Murad. Kedua bersaudara ini sering ditemani Poppy binti Murad. Sekira bulan Maret 2007, Murad jatuh sakit dan dirawat di RS Fatmawati, Jakarta.

Endang Darsa, 66, bekas sopir pribadi DN Aidit sebelum pecah Gerakan 30 September 1960 tapi juga 'sempat' dipenjara tujuh tahun (1965-1972), turut membesuk Murad. Endang Darsa bekerja untuk Aidit tahun 1963-1964 ketika Ibarruri belum dikirim belajar ke Rusia.

Ibarruri terhalang pulang setelah pecah Gerakan 30 September. Sedangkan Murad, hanya 100 hari sepulang dari Rusia ditangkap, lalu dikirim ke Pulau Buru untuk 10 tahun. Ia tak tahu alasan penangkapannya kecuali menduga karena di belakang namanya ada kata Aidit.(Surya/Yuli Ahmada)

Friday, April 4, 2008

Duka Untuk Bang Murad Aidit

Dering telpon genggamku yang mati berhari-hari karena sinyal tak menyentuh pedalaman yang kujejaki dan jelajah menjerit tiada henti.
Sebuah suara lembut nan bersahaja mengabarkan duka:
"Mas Budi, Pak Murad meninggal tiga hari lalu."
Ah, pisau tajam yang kukhawatirkan itu datang juga. Bang Murad berpulang pada Sabtu, pekan lalu di rumahnya yang asri di Depok, Jawa Barat.
Aku terhenyak.
Dukaku memenuhi langit pagi yang lahir di pedalaman Borneo.

Selamat Jalan Bang.
Bebaskan dirimu dari duka yang dibuat penguasa...
Bertemulah dengan Tuhan yang tak pernah membeda-bedakan dan menyakiti umatnya...
Tuhan yang tak mau berbuat seperti mereka-mereka yang telah menistakanmu..

Banjarmasin, 5 April 2008
Budi Kurniawan,

Friday, February 15, 2008

Tiwah at Far of Katingan


Tiwah is a ritual send soul to heaven. In Ngaju believe, Tiwah very important, cause every human was died must be going to soul. And than the family must be make some ritual. If not, the life can dangerously.
At 22 th March, Tiwah will be in Tumbang Labaning, far Katingan Hulu, Katingan Regency. If u want see that, u can send some email to budibanjar@yahoo.com, or can call me on +628164532082. Maybe i can help u. I m waiting in Katingan.

Best Regard,

Budi

Tiwah di Pedalaman Katingan


Dalam kepercayaan Kaharingan --Orde Baru "memaksa" agama yang dianut oleh sebagian besar orang Dayak ini masuk dalam agama Hindu dengan sebutan Hindu Kaharingan-- kematian adalah awal sebuah perjalanan panjang ke Lewu Tatau (Sorga). Roh mereka yang mati masih berada di sekitar wilayah semasa hidupnya. Untuk mengirimkan roh itu ke Lewu Tatau, orang Dayak wajib menggelar upacara Tiwah. Tiwah yang memiliki substansi penghormatan pada para leluhur dan perjalanan di surga ini akan digelar pada 22 Maret 2008 di Desa Tumbang Labaning, Katingan Hulu, Kabupaten Katingan. Pada bulan Mei dan Juni, Tiwah juga akan digelar di Manuhing, Kahayan, Kalimantan Tengah. Sebuah ritual eksotik dan kaya pesan kearifan ini menanti Anda.

Monday, February 4, 2008

Isi Rimba di Tepian Sungai


Kebijakan terhadap "illegal logging" ternyata pandang bulu. Jika si kecil menebang pohon untuk sekadar hidup, penguasa langsung murka. Tetapi di tepian Sungai Katingan, Katingan, Kalimantan Tengah, isi rimba berserakan. Dengan kantong tebal dan sebaran uang merata yang mengalir kemana-mana, mereka aman. Kekuasaan memang selalu buta dan ramah pada mereka yang berpunya.

Katingan, Januari 2007

Punah Dihantam Kapitalisme


Di masa silam, banyak penghuni pinggiran Sungai Katingan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, bergantung hidup pada pembuatan dan penjualan "Jukung Patai" (perahu kecil). "Jukung Patai" ini semula berbahan kayu besi yang diolah sedemikian rupa --dibakar bagian tengah kayu, dibentuk menjadi perahu kecil. Namun sejak penguasa melarang kayu besi ditebang --walau hanya untuk menyambung hidup-- penduduk kesulitan mencari kayu untuk di hutan, dan kini hanya menggunakan kayu dengan bahan yang tak bisa tahan lama. Tapi itulah, penduduk dengan kearifan lokal selalu tergusur ketika kekuasaan mengambil kebijakan yang tidak bijak.

Pinggiran Katingan, Akhir Januari 2007

Friday, January 11, 2008

Mengenang Djok Mentaya di Zaman yang Berubah (13 Januari 1994-13 Januari 2008)



Oleh : Budi Kurniawan (Aktivis Journalist and Writer Forum of Borneo dan bersama HM Thamrin Junus menulis buku “DJOK, Penakluk dari Sungai MENTAYA”. E-mail: budibanjar@yahoo.com)


“Hoofd, amun bisa jangan turun ka kantor dulu. Di sini HI lagi mahamuk. Inya mambawa lading (Ketua, kalau bisa jangan berangkat ke kantor dulu. Di sini HI sedang mengamuk. Dia membawa pisau).”

Hal itu disampaikan Wakil Pemimpin Umum Banjarmasin Post HG Rusdi Effendi AR pada 1 September 1977. Rusdi yang kini menjabat Pemimpin Umum Banjarmasin Post mengingatkan hal itu kepada atasannya, HJ Djok Mentaya, melalui telepon ketika melihat segerombolan orang dengan marah dan bersenjata tajam mendatangi kantor Banjarmasin Post di Jalan Pasar Baru 222, Banjarmasin.

Pada awalnya Djok mengindahkan peringatan itu. Tetapi tak berselang lama, Djok mengangkat telepon dan menghubungi Rusdi. “Di, HI masih di situ kah? Kaya apa amun aku ka kantor ja? (Di, HI masih di kantor? Bagaimana kalau saya ke kantor saja?).”

“Tasarah Hoofd aja. HI masih di sini. Inya tarus maangkat dan maarah akan ladingnya. (Terserah Ketua saja. HI mash di sini. Dia terus mengacung-acungkan pisaunya),” jawab Rusdi ragu.

Sekitar pukul 09.30 WITA pada Kamis, 1 September 1977, itu Djok sudah berada di depan kantor Banjarmasin Post, koran yang dia dirikan dan kelola bersama kawan-kawan mantan aktivis gerakan mahasiswa Angkatan 1966 itu. Begitu Djok tiba, HI yang sebelumnya sudah mengamuk itu menyambut Djok dengan sebilah pisau terhunus. HI tak sendiri, ia ditemani tiga orang lainnya yang juga mencabut pisau.

Djok berusaha lari menghindari kejaran kawanan itu. Tetapi malang, dia tergelincir dan jatuh di depan kantor Harian Utama, salah satu koran cukup besar pada era 1970-an di Banjarmasin. Ketika itulah tiga mata pisau ditudingkan ke arah Djok. HI membentak Djok dan memerintahkan ayah tiga anak ini meminta ampun. “Ya, saya minta ampun,” kata Djok kepada Sjachran R dari Majalah TEMPO pada awal September 1977.

Saat meminta ampun dan terdesak akibat tudingan pisau itulah, beberapa wartawan Harian Utama yang sedang berada di kantor muncul membantu Djok yang kala itu berusia 38 tahun. HI dan kawan-kawan pun langsung kabur. Para wartawan Harian Utama langsung memapah dan melarikan Djok ke rumah sakit.

Ternyata ketika Djok tergelincir saat berusaha menghindari HI dan kawan-kawan dia jatuh deras betul. Setelah tiba di Rumah Sakit Umum Ulin Banjarmasin, Djok diperiksa Bagyo S Winoto, seorang dokter bedah yang cukup ternama di Kalimantan Selatan kala itu. Pemeriksaan menemukan tempurung lutut kiri Djok pecah, kakinya patah, dan salah satu urat kakinya putus. “Kalau tak segera dioperasi bisa cacat seumur hidup. Timpang atau lumpuh,” kata dr Bagyo tentang tempurung lutut Djok yang pecah.

Pada Jumat (2/9) siang sekitar pukul 12.00 WITA dokter berhasil mengoperasi lutut kiri Djok yang cedera. Pada malam hari setelah Djok sadar dari pembiusan ketika operasi berlangsung, dia merasakan nyeri dan ngilu luar biasa pada tempurung lututnya yang sudah dijahit dengan kawat anti karat. Sakit yang luar biasa itu menyebabkan Djok tak bisa tidur. Baru pada malam ketiga setelah insiden itu rasa sakit berangsur-angsur berkurang.

Pasca operasi Djok harus diopname selama sebulan. Dan sesudah sembuh, Djok harus banyak beristirahat. Djok hanya boleh berjalan dengan dua tongkat penopang. Enam bulan kemudian tongkat itu mungkin boleh dibuang setelah kepingan tempurung lutut yang pecah bertaut kembali. Kawat-kawat yang digunakan menautkan tempurung lutut itu dicabut melalui pembedahan ulang.

Peristiwa percobaan pembunuhan tak hanya membuat Banjarmasin gempar. Di seluruh penjuru Kalsel dan Kalteng peristiwa itu menjadi buah bibir. Reaksi keras pun berdatangan, dari mahasiswa, politis lokal dan nasional, aparat keamanan dan penegak hukum, persatuan wartawan lokal dan nasional, dan pejabat Kalsel dan Kalteng. Semua mengutuk peristiwa percobaan pembunuhan itu. Pelaku pun ditangkap dan diproses di pengadilan.

***
Tak sekali dua Djok menghadapi rintangan. Ketika mulai membangun “Banjarmasin Post” misalnya dia menghadapi rintangan yang datang dari rekan sejawatnya saat bersama-sama turut menumbangkan Orde Lama yang kemudian memunculkan Orde Baru. Sayangnya kekuasaan yang cenderung korup juga berlaku pada Orde Baru. Orba menjelma menjadi rezim otoriter yang mengatur seluruh napas hidup khalayak. Djok kecewa.

Namun ia tetap melawan segala kelaliman dengan caranya sendiri, misalnya dengan menolak tawaran untuk menjadi anggota parlemen –baik di tingkat lokal maupun nasional—dan lebih memilih mengurus –juga membesarkan—Banjarmasin Post. Sebuah keputusan yang kini sulit dicari tandingannya ketika semua orang berlomba-lomba dan kadang dengan menghalalkan segala cara untuk menjadi anggota parlemen lokal dan nasional yang dilengkapi segala macam kemewahan duniawi. Djok bersikap tegas seperti motto "Demi Keadilan, Kebenaran, dan Demokrasi” pada Banjarmasin Post yang ia lahirkan dan besarkan.

Djok harus pintar meniti buih menghadapi berbagai rintangan yang datang. “Kalau tidak terus berkonsultasi dengan psikiater, saya sudah sakit saraf. Tulis begini, dipanggil si ini. Tulis begitu, dipanggil si itu. Yah, harus rajin minta maaf,” kata Djok kepada George Junus Aditjondro dari TEMPO pada awal September 1977. George kini dikenal sebagai aktivis anti korupsi dan rajin membongkar kekayaan mantan Presiden Soeharto. Kini George mengajar di sebuah perguruan tinggi di Australia setelah “pindah” dari Universitas Kristen Satywa Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Namun jalan hidup rupanya tak selalu lempang. Hal itu juga berlaku pada diri Djok Menyata (Lahir di Sampit, Kalteng, 19 Juli 1939-Wafat di Jakarta 13 Januari 1994). Djok yang menurut Lies Pandan Wangi, putrinya, saat masih dalam kandungan sang ibu mimpi sedang mengasuh bulan itu –pertanda sang anak akan menjadi orang besar-- dikenal sebagai sosok penentang dominasi kapital besar media itu akhirnya mengalami ironi.

Hanya setahun setelah dia berpulang, Banjarmasin Post yang ia bangun dengan darah dan air mata itu tak lagi menjadi miliknya. Tak ada yang salah sesungguhnya dalam hal ini. Karena perubahan tak bisa diindahkan. Ia bisa menjadi macan yang memakan anaknya. Tetapi juga bisa menjadi macan yang dengan telaten menjaga dan membimbing anaknya hingga perkasa menghadapi perubahan.