Monday, July 26, 2010

Surat dari Amerika –Bagian Pertama


Senyum di Korea
Cemberut di Amerika

Oleh : Budi Kurniawan (Wartawan, bekerja di Banjarmasin, tinggal di Jakarta. E-mail: budibanjar@yahoo.com)

“Diperlukan karyawan. Berpenampilan dan berwajah menarik. Tinggi badan minimal 160-170 Cm. Usia 20-25 tahun. Single. Punya kendaraan sendiri. Mudah menyesuaikan diri. Mampu bekerja dalam tim. Langsung interview. Yang diterima langsung mendapatkan penghasilan cukup besar. Bersedia ditempatkan di mana pun. Hanya yang memenuhi syarat yang bisa bergabung.” Iklan lowongan pekerjaan semacam ini di Indonesia jamak ditemukan di berbagai media cetak. Orang-orang yang berminat pada lowongan pekerjaan ini tentu harus berpikir panjang, apakah mereka memenuhi syarat-syarat itu. Karena jika tidak sesuai dengan persyaratan, impian untuk mendapatkan pekerjaan itu wajib dikubur dalam-dalam.

Sadar tidak sadar, persyaratan yang ditentukan empunya usaha ini selain memberi batasan yang sangat jelas tentang orang macam apa yang ia inginkan, juga telah menutup peluang bagi beberapa kalangan. Karena tentu saja tak semua orang berwajah dan berpenampilan menarik. Tak semua orang punya tinggi badan ideal, terutama dalam pandangan umum Indonesia: mereka yang bertungkai panjang, berbadan sintal dan dada berisi, berkulit putih, dan berhidung mancung lah yang menarik dan membuat pandangan mata diam abadi.

Karena persyaratan semacam ini pula –dan khalayak memang menginginkannya—di Indonesia hanya mereka yang menarik lah yang bisa ditemukan dalam sektor-sektor usaha, terutama pelayanan publik dan jasa, yang bisa mendapat pekerjaan. Jadinya, dari pramusaji, pegawai hotel, sales asuransi dan farmasi, hingga pramugari, tentulah mereka yang dinilai menarik, sehingga akan berdampak pada kemenangan persaingan usaha.

Namun, tak hanya orang Indonesia yang berpikiran demikian. Jika kita punya kesempatan bepergian ke luar negeri, maka di maskapai-maskapai penerbangan asing, terutama Asia, pramugari yang bekerja rata-rata mereka yang sesuai dan mewakili stigma serta imajinasi kemenarikan fisik itu. Di maskapai penerbangan seperti Korean Airlines misalnya, para pramugarinya selalu berusia muda, bertungkai panjang, langsing, berbibir tipis, berhidung mancung, dan bertubuh padat berisi. Para pramugari ini kian menarik dan membuat mata malas berkedip ketika senyum tak pernah berhenti mereka mekarkan dari bibir tipis nan ranum itu.

Sepanjang perjalanan Jakarta-Incheon, Korea Selatan, para pramugari ini dengan sangat ramah melayani para penumpang. Bahasa Inggris khas Asia yang mereka kemukakan kadang membuat orang tak paham apa yang dibicarakan. Tapi apalah arti semua itu, ketika keindahan yang dibingkai stigma kemenarikan khas Indonesia –atau Asia—itu ada di depan mata?

Semua itu berlanjut ketika perjalanan dari Incheon berganti maskapai penerbangan. Perusahaan penerbangan Jepang biasanya “menyajikan” pemandangan relatif sama dengan yang diberikan Korean Airlines. Para pramugari Jepang juga berwajah menarik dan ramah. Apa pun yang diminta para penumpang segera mereka penuhi. Komunikasi dengan bahasa Inggris yang kadang pelo itu juga tak banyak mengganggu.

Namun hal berbeda terjadi ketika perjalanan Narita-Washington DC berlangsung menggunakan pesawat milik maskapai penerbangan United Airlines. Di perusahaan milik Amerika ini, jarang –atau sama sekali tidak ada-- pramugari yang sesuai dengan stigma kemenarikan khas Indonesia dan Asia. Mereka rata-rata berusia relatif tua dengan senyum ramah yang langka. Para pramugari ini berkomunikasi strike (langsung), tanpa basa-basi, dan bicara seadanya.

Jika kita mencoba meminta sesuatu yang mereka anggap mengada-ada, maka pra pramugari ini tak sungkan-sungkan untuk berbicara tegas dan menolak permintaan itu. Seorang teman asal Maluku yang di kampungnya menjabat sebagai dosen bagi program S1 dan S2 di berbagai perguruan tinggi, baik Islam maupun Kristen misalnya, merasakan langsung semprotan ketegasan khas pramugari di maskapai penerbangan Amerika. Sang teman meminta makanan yang hanya bisa dimakan orang Islam.

“Kami tidak menyediakan khusus makanan yang Anda minta. Jika Anda masih berkeras memintanya, lebih baik Anda menggunakan penerbangan yang lain. Di sini makanan yang adanya hanya ini. Anda bisa memilihnya sesuai keinginan Anda. Jika makanan yang Anda minta tidak ada, kami tak mungkin membuatnya ada,” kata sang pramugari itu. Tak ada yang bisa dilakukan sang teman selain tersenyum kecut sambil terkaget-kaget dengan perkataan pramugari penerbangan Amerika itu. “Sudah tua, sangar lagi,” bisik sang teman itu.

Teman dari Maluku ini terheran-heran, mengapa penerbangan dengan menggunakan pesawat bagus dan canggih itu justru mempekerjakan pramugari berwajah dan berbodi tak menarik. Sang teman rupanya lupa, di Amerika semua orang punya hak terhadap pekerjaan apa pun sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Persyaratan-persyaratan seperti wajah dan tubuh menarik, bertinggi badan tertentu, dan sejenisnya, merupakan bentuk diskriminasi. Karena itu, di Amerika tak akan pernah ditemukan ada iklan lowongan pekerjaan seperti yang jamak di koran-koran di Indonesia.

Tuesday, July 7, 2009

Tuba yang Kau Tumpahkan...


Kudengar terbata-bata seorang kawan dari pedalaman mengabarkan dukanya usai bertemu orang-orang yang rumahnya dikepung perkebunan sawit di Kotawaringin Timur. Selama dua hari dua malam, ia dan seorang Damang (Kepala Adat di Kalimantan Tengah) naik sepeda motor melintasi jalan penuh kubangan. Ia dan sang Damang --saya bertemu dengan Damang ini dalam sebuah pelatihan tentang Dasar-dasar HAM di Palangka Raya-- menembus jalanan yang di kiri kanannya penuh sawit untuk menyaksikan dan mendengar langsung apa yang telah terjadi di pedalaman. "Habis Le (sebutan akrab pada sesama orang Dayak yang usianya sebaya). Habis, semua sudah habis," katanya lirih.

Tak kuasa, airmataku menetes mendengar suara terbata-bata itu. Aku yang berada di Banjarmasin, tempat numpang mencari makan, tak kuasa mengeluarkan kata. Yang singgah di depan mata adalah rimba raya yang kukira tinggal dongeng masa silam untuk generasi kini. Kesombongan manusia yang datang dari kota, membuatku memendam dendam. Aku merindukan Tuhan murka, dan menerbitkan Sodom Gomora di atas perkebunan sawit, pada mereka yang telah membuat suara kawanku terbata-bata yang mengabarkan semuanya telah habis. Pada mereka yang telah menghancurkan segalanya...menghancurkan budaya..menuba kearifan lokal dengan uang dan materi...

Thursday, January 15, 2009

Caleg Golkar Dibui




BANJARMASIN – Polisi menetapkan Bambang Haryono Arisudewo (58) caleg Partai Golkar Kalsel nomor urut 10 Dapil Banjarmasin Selatan sebagai tersangka.
Sebelumnya melalui kader bidang hukum, Karli Hanafi Kalianda, Golkar ingin persoalan yang menimpa calegnya itu diselesaikan secara damai dengan keluarga H Syahril Effendi, korban tewas setelah sepeda motornya ditabrak mobil Kijang warna kuning milik Partai Golkar Kalsel.

“Kasus tabrakan maut antara mobil Kijang warna kuning yang dikendarai Bambang dan menewaskan H Syahril Effendi, proses hukunya terus berlanjut sampai ke pengadilan. Bambang sudah ditetapkan tersangka dan ditahan. Tidak ada pilih kasih. Yang bersalah akan tetap diproses hukum,” kata Kanit Laka Poltabes, Ipda Soegiarto, kepada Sinar Kalimantan, Selasa (23/12).

Pantauan koran ini, caleg Golkar itu terlihat mendekam dalam sel rutan Poltabes. Pihak petugas rutan memperlakukannya sama dengan para tersangka lainnya. Beberapa petugas terlihat menjalankan tugasnya seperti biasa. “Tidak ada tahanan yang diistimewakan petugas. Memang ada beberapa kali keluarga Bambang menjenguk,” kata Soegiarto.

Menurut Ipda Soegiarto, jika upaya damai itu ditujukan pada polisi, pihaknya tidak menerima hal itu. “Bambang diduga melakukan kesalahan dengan menabrak korban, bahkan korban sempat terseret sepanjang 25 meter dari tempat asal mula terjadi tabrakan. Dari itu saja sudah diduga saat mengendarai mobil dia lalai tanpa memperhatikan keselamatan warga pengguna jalan lain.”

Mobil Kijang warna kuning ini diamankan di halaman parkir Mapoltabes dan dijadikan barang bukti. Kepada pelaku, kata Kanit, dikenakan pasal 359 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun.

Seperti yang ditulis Sinar Kalimantan, Selasa (23/12), istri Kasubdin Pendidikan Menengah Disdik Kalsel, Almarhum H Syharil Effendi, Ny Hermiati (45), menyatakan belum pernah didatangi orang-orang Partai Golkar untuk berdamai dan menyampaikan belasungkawa. Keluarga, kata Ny Hermiati, memilih penyelesaian melalui jalur hukum. rds/SK

Golkar Kalsel Bohong




BANJARMASIN – Partai Golkar Kalsel, Senin (22/12), mengaku telah mendekati keluarga H Syahril Effendi (45), korban yang tewas setelah ditabrak mobil Kijang warna kuning dikendarai Bambang Haryono Arisudewo (58), caleg nomor urut 10 Dapil Banjarmasin Selatan itu, Jumat (19/12) dini hari. Pendekatan itu dilakukan agar kasus ini diselesaikan secara damai.

“Kita sudah dua kali berupaya melakukan pendekatan kepada pihak keluarga koban. Atas kejadian ini kita meminta perdamaian, karena musibah itu sama sekali tidak dikehendaki,” kata Karli Hanafi Kalianda, kader Golkar Kalsel bidang hukum.

Namun, Hermiati (45), istri Kasubdin Pendidikan Menengah Disdik Kalsel yang tewas itu, mengaku belum pernah didatangi orang-orang Partai Golkar. Hermiati dan keluarga besarnya memilih penyelesaian melalui jalur hukum. “Setelah kejadian itu, Golkar tidak pernah menghubungi apalagi mendatangi kami memberikan ucapan belasungkawa,” kata Hermiati kepada Sinar Kalimantan, Senin (22/12).

Seperti yang ditulis koran ini, Sabtu (19/12), H Syahril Effendi (45), warga Jl Gatot Subroto Gg Pala RT 25, Banjarmasin Timur, tewas diterjang mobil jenis Kijang warna kuning milik Partai Golkar Kalsel di Jl Gatot Subroto, depan Wijaya Service Mobil, Banjarmasin Timur, Jumat (19/12) dini hari sekitar pukul 00.30 Wita.

Korban menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan menuju RSUD Ulin akibat luka di kepala dan wajah setelah terseret mobil sepanjang 25 meter. Sopir mobil, Bambang Haryono Arisudewo (58), warga Jl Sultan Adam, Komplek Perkasa Indah RT 21 No B 54, Banjarmasin Utara, merupakan caleg partai beringin dengan nomor urut 10 Dapil Banjarmasin Selatan.

Setelah peristiwa itu, Bambang menyerahkan diri ke petugas Satlantas Poltabes. Sedang mobil kijangnya, DA 7054 AE, dan sepeda motor Honda Beat warna merah, DA 6627 EA, milik korban yang rusak berat, diamankan.

Menurut Karli Hanafi Kalianda, upaya damai kepada keluarga korban masih belum ada hasilnya. “Sampai saat ini memang belum ada hasil. Namun dari kejadian itu caleg kita sudah bertanggung jawab di depan hukum,” katanya.

Menurutnya Karli, proses hukum sudah diserahkan kepada pihak berwajib untuk menindak lanjuti peristiwa tabrakan itu. Namun, ujar Karli, setidaknya permasalahan yang tidak disengaja ini bisa ditempuh dengan jalan kekeluargaan.

Sementara isteri korban, Hermiati (45), ketika ditemui Sinar Kalimantan di rumah duka, mengaku orang Golkar belum penah menemui atau menghubunginya. “Setelah kejadian itu, Golkar tidak pernah menghubungi, apalagi mendatangi kami untuk memberikan ucapan belasungkawa,” tutur Hermiati.

Mengenai upaya damai yang dimintai Partai Golkar, Hermiati bersama keluarganya lebih memilih jalur hukum. “Kita serahkan saja kepada hukum, yang penting bertindak adil,” katanya. djo/rds/SK

Kijang Golkar Tewaskan Pejabat Kalsel





BANJARMASIN- Kasubdin Pendidikan Menengah Disdik Kalsel, Syahril Effendi (45), warga Jl Gatot Subroto Gg Pala RT 25, Banjarmasin Timur, tewas diterjang kijang warna kuning milik Partai Golkar di Jl Gatot Subroto, depan Wijaya Service Mobil, Banjarmasin Timur, Jumat (19/12) dini hari sekitar pukul 00.30 Wita.

Korban menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam perjalanan menuju RSUD Ulin akibat luka di kepala dan wajah setelah terseret mobil sepanjang 25 meter. Sopir mobil, Bambang Haryono Arisudewo (58), warga Jl Sultan Adam, Komplek Perkasa Indah RT 21 No B54, Banjarmasin Utara, merupakan caleg partai beringin dengan nomor urut 10 dapil Banjarmasin Selatan.

Setelah tertabrak korban, Bambang menyerahkan diri ke petugas Satlantas Poltabes. Sedang mobil kijangnya, DA 7054 AE, dan sepeda motor Honda Beat warna merah, DA 6627 EA, milik korban yang rusak berat, diamankan.

Pengakuan Bambang kepada Sinar Kalimantan, dini hari itu ia mendapat tugas memasang bendera Partai Golkar untuk penyambutan kedatangan Ketua Umum DPP partai tersebut, Jusuf Kalla.

Dengan menggunakan mobil itu, seorang diri Bambang bermaksud pulang ke Sekretariat DPD Partai Golkar Kalsel, Jl Lambung Mangkurat, Banjarmasin Tengah, untuk mengambil beberapa bendera yang akan dipasang di sekitar Jl A Yani.

Karena terburu-buru, dari Jl A Yani melalui jalur Jl Gatot Subroto, mobil dipacu dengan kecepatan cukup tinggi. Terlebih lagi dini hari itu, jalan sudah lengang. Tepatnya di depan Wijaya Servis Mobil, karena hendak menghindari lubang, setir dibelokan ke arah kanan.

Namun tak disangka, ternyata di depan ada sepeda motor yang dikendarai korban. Benturan keras pun terjadi. Korban setelah ditabrak, sempat terseret sepanjang 25 meter. Sedang sopir mobil diduga tidak menyadarinya. Setelah satu ban bocor dan seperti ada menyeret sesuatu, barulah sang sopir menghentikan mobilnya.

Beberapa menit Bambang sempat berusaha mengeluarkan korban dari jepitan di bawah mobil kijangnya. Beruntung ada warga lewat membantu mengeluarkan tubuh korban. Dengan menggunakan mobil pikup warga itu, korban dilarikan ke RSUD Ulin. Namun belum sampai di tujuan, korban keburu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sementara Bambang, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, menyerahkan diri ke petugas Satlantas Poltabes. Dia terancam pasal 359 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. rds/SK

Saturday, January 3, 2009

Makam Pun Ikut Tergusur Sawit

PALANGKARAYA - Konflik lahan antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan sawit terus saja terjadi. Tidak hanya karena lahan perkebunan warga yang diklaim menjadi milik perkebunan, konflik makin menjadi karena lokasi-lokasi yang dianggap sakral seperti makam leluhur juga sering ikut tergusur.

Seperti laporan warga kepada aktivis yang tergabung dalam Save Our Borneo (SOB) belum lama ini. Sejumlah warga dari Desa Tanah Putih Kecamatan Talawang Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalteng mengadu karena kebun dan makam keluarga mereka digusur oleh salah satu perusahaan yang beroperasi di kawasan itu.

Koordinator SOB, Nordin mengatakan warga yang mengadu adalah Umbung bin Jahan(58) dan Tarang bin Udil(50). Mereka mengeluh karena pihak perusahaan belum merealisasikan janjinya mengembalikan tanah makam tersebut dan mengganti rugi kebun dan tanam tumbuh milik mereka.

"Umbung minta makam dikembalikan seperti semula dan ganti rugi kebun. Sedangkan Tarang minta makam keluarga mereka juga dikembalikan dan dilakukan tiwah atas kejadian itu. Mereka juga meminta perusahaan melakukan sumpah aday untuk tidak melakukan perbuatan merugikan masyarakat lagi dalam bentuk apapun," kata Nordin, Jumat (2/1).

Dijelaskan, penggusuran makam itu sebenarnya terjadi antara 2003-2004 lalu. Pembukaan lahan oleh perusahaan tersebut membuat delapan makam dan sandung di lokasi yang disebut masyarakat setempat sebagai Padang Agung ikut diratakan.
Para ahli waris marah namun kebingungan karena sadar yang mereka hadapi adalah perusahaan besar. 9 Mei 2005 lalu sempat dilakukan pengecekan lapangan bersama-sama oleh perusahaan, masyarakat serta ahli warisnya.

Lokasi yang bermasalah, baik karena penggusuran makam, maupun tanah, kebun dan ladang masyarakat yang di gusur perusahaan tersebut terdapat di Blok D30T, D31T, E31T, E32T, E34T dan D35T. Namun belum ada tindak lanjut dari hasil pengecekan tersebut sehingga ahli waris terus menuntut.

Senin, 21 Juli 2008 lalu Umbung mengirimkan surat kepada Camat Talawang yang intinya telah terjadi perataan-penggusuran sewenang-wenang oleh perusahaan. Makam tersebut milik orangtua dan kerabat Jaruh, Anoi, Moni, Mido, Wesi dan Irik.

"Mereka berharap pemerintah daerah tidak tutup mata terhadap masalah ini. Para ahli waris juga berencana mengadukan perbuatan pidana perusakan kuburan tersebut ke polisi. Mereka berharp kepolisian juga bersikap adil meski yang dilaporkan adalah perusahaan besar," kata Nordin.

Sebelumnya Gubernur Agustin Teras Narang meminta perusahaan yang beroperasi di Kalteng mencari jalan tengah jika terjadi konflik lahan dengan masyarakat. Jika ternyata terdapat makam atau situs budaya dalam kawasan maka hendaknya tetap diamankan dan tidak diganggu.

Monday, December 15, 2008

Damang Masih Dipandang Sebelah Mata

Berita di Harian Sinar Kalimantan, Sabtu 2 Desember 2008

PALANGKA RAYA - Posisi Damang/Kepala Adat selama ini masih dianggap sebelah mata dalam setiap pengambilan keputusan. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat lembaga Kedemangan merupakan institusi tertua di tengah masyarakat Indonesia yang menjujung tinggi nilai-nilai budaya.

“Damang harus memiliki posisi tawar dan memiliki kesamaan persepsi,” kata Setia Budhi, Direktur Eksekutif Centre for Reseach and Development Studies ( CRDS) kepada Sinar Kalimantan di Palangka Raya, kemarin.

Menurut dia, di berbagai daerah di Kalimantan, posisi Damang sering terjepit ketika harus berhadapan dengan investor yang didukung pemerintah daerah.
Di daerah rawan konflik kepemilikan tanah, posisi Damang selalu berada di pihak yang kalah karena tekanan penguasa dan pemodal besar. Dengan pertimbangan tersebut CRDS berupaya memberikan bimbingan dan pedampingan kepada Damang Kepala Adat yang wilayah kerjanya rawan gesekan kepentingan investor.

Damang Kepala Adat, kata Setia Budhi, harus di bekali pengetahuan seiring dengan perkembangan jaman. Seperti meningkatnya konflik tanah menyusul masuknya investor ke daerah ini. “Selama ini hak-hak Damang banyak terabaikan.” katanya.

Direktur Program CRDS, Budi Kurniawan menyatakan pihaknya siap mengadakan pendampingan bila para Damang/Kepala Adat terlibat konflik dengan investor menyangkut kepemilikan tanah di daerahnya. Saat ini CRDS memfokuskan pendampingan pada masyarakat adat di Daerah Aliran Sungai (DAS). “CRDS memiliki komitmen tinggi terhadap kearifan lokal,” kata Budi Kurniawan.

Dalam rangka memberdayakan posisi Damang CRDS menyelenggarakan pelatihan dasar-dasar HAM bagi Damang di daerah konflik di wilayah Kalteng dan Kalsel. Pelatihan dilaksanakan di Hotel Batu Suli Palangka Raya, mulai Senin (1/12) hingga Jum’at
(5/12). bgz/SK