Monday, September 15, 2008

Dua Sisi Mata Uang?



Dalam sebuah perjalanan Banjarmasin-Banjarbaru, aku berhenti untuk mengisi perut di sebuah warung di Gambut, yang terkenal dengan nasi itiknya yang enak. Di sini aku tak hanya menemukan nasi itik, tapi juga ada "selebaran" minta dukungan dari seorang "artis"lokal yang sedang mengadu nasib dengan sms di sebuah kontes dangdut di sebuah televisi swasta di Jakarta.

Sementara di warung itu --dan di sebuah warung cukup besar di Km 30 Jalan Trans Kalimantan menuju Sampit dan Tumbang Samba-- juga terpampang wajah ulama yang punya pengikut banyak di Kalimantan Selatan. Ini dua sisi mata uang sikap dan sifat? Entahlah....

4 comments:

Syamsuddin Ideris said...

Wahh menarik juga "jepretan potret kehidupan" yang sempat bung Budi ambil sembari makan di Gambut.

Kayaknya pemilik warung menganut keseimbangan dunia dan akhirat. Buktinya tempelan poster gemerlap dunia ada dan poster Ulama Kharismatik yang banyak memberikan nasehat akhirat juga ada.

Bagaimana, ya?

voda love said...

im here because of few cents for you. just dropping by.

Inas said...

Artis, ulama, bintang film, tokoh parpol menjelang pilkada, mereka selalu "di(hidup)kan" dalam simbol poster yang ditempel di dinding rumah bahkan di baju kaos. Apakah makna yang diinginkan oleh pengikutnya? Yang jelas, poster mereka itu telah mengisi ruang hingga di tempat yang privasi seperti kamar tidur. Semakin akrab antara tokoh dan penggemarnya, semakin tersedia ruang privasi untu mereka itu. Fotoku dalam dompet kekasihku misalnya,...

Budi Kurniawan said...

Bung Syamsuddin, begitulah ada keseimbangan rupanya, ada politik tipa-tipu, tetapi saya kira kita harus tak pernah berhenti mengepalkan tangan buat hantam congkak dunia.

Budi Kurniawan