Thursday, April 26, 2007

“Melawan dengan Restoran”



Dunia perlawanan sering dipenuhi jargon heroik dan metode njelimet. Berbagai teori --juga kisah-- mengenai dunia perlawanan selalu dibumbui beragam hal. Dari cara pengumpulan massa, bagaimana mengorganisirnya, hingga tujuan yang hendak dituju tercapai. Dunia perlawanan juga melahirkan beragam ikon. Baik yang ngepop, maupun yang membuat kening berkerut.

Buku ini sepenuhnya tak membuat kita sulit mencerna kisah dan aroma perlawanan yang ada di dalamnya. Buku yang berasal dari wawancara dan pendalaman dengan Sobron Aidit, adik kandung Ketua CC Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara Aidit, lebih banyak menceritakan tentang perlawanan dengan medium sederhana: restoran dan makanan.

Dari restoran yang hingga kini masih berdiri dan beraktivitas di Paris, Prancis, “kaum klayaban” melawan rezim Orde Baru pimpinan Soeharto. Di restoran ini juga banyak aktor perlawanan berkumpul. Tak hanya itu, restoran bernama Restoran Indonesia ini juga menjadi tempat para pelarian politik muda yang dikejar-kejar Orba berteduh. Budiman Sudjatmiko, Yeni Rosa Damayanti, dan Sri Bintang Pamungkas, turut merasakan amannya berteduh di restoran ini.

Kisah yang dituturkan dalam buku yang ditulis Sobron Aidit dan Budi Kurniawan secara ringan dan runtut dalam buku ini setidaknya bisa memberi inspirasi kepada kita bahwa melawan ternyata bisa dilakukan tanpa harus mengibarkan panji-panji kekerasan. Dengan makanan dan restoran pun perlawanan –juga penyadaran—bisa dilakukan.

2 comments:

Anie said...

Sudah saya baca habis lembaran-lembarannya. Buku ini lucu namun bernuansa ketegaran. Sungguh sebuah buku yang mampu menggelitik kaki saya untuk segera kesana. Semoga saya bisa berkunjung! Tabik.

Anonymous said...

Tulisan akan mencerminkan zaman dan diri penulisnya. Diri Sobron Aidit, pemikiran, dan semangat zamannya tampak jelas dalam buku yang ringan dan enak dibaca ini. Meskipun sama-sama menyandang nama Aidit, Sobron memang bukan seorang politisi seperti DN Aidit, dia sastrawan. Untuk Budi Kurniawan yang membuat buku tentang Restoran Indonesia ini terwujud, selamat dan terus berkarya. Keindahan bahasa tidak akan lekang oleh waktu.
-nina-