Wednesday, April 25, 2007

Pesawat TNI AU = Bus Kota


Ini adalah pengalaman saya naik pesawat Boeing 737 milik TNI Angkatan Udara dari Makassar ke Jakarta. Bandara Sultan Hasanuddin dan agen penjualan tiket yang dikuasai para calo, membuat calon penumpang pesawat ke jurusan mana pun kesulitan mendapatkan tiket. Parahnya di bandara sudah menunggu para calo berambut cepak yang menawarkan tiket dan layanan setara pesawat komersial. Kadang mereka menyatakan pesawat yang akan digunakan para calon penumpang adalah yang dipakai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Karena itu fasilitasnya pun sama dengan pesawat komersial lainnya.

Tapi apa lacur, walau sudah membayar uang sebesar Rp900.000 (untuk perjalanan Makassar-Jakarta), calon penumpang tidak dijamin bisa naik pesawat. Karena untuk naik pesawat harus kuat-kuatan backing. Begitu penumpang yang mendesak harus sampai di Jakarta dalam waktu dekat, makin mahal harga yang harus dibayar dan harus makin kuat backing yang dimiliki. Kalau itu tidak dimiliki, niscaya tidak bisa naik pesawat dan terlantar di bandara.

Saya yang ketika itu baru tiba dari Pulau Selayar dan harus ke Jakarta pada hari yang sama terpaksa menggunakan pesawat TNI AU ini. Setelah berdesak-desakan, saya dan seorang teman bisa naik pesawat. Eh, sampai di atas pesawat, semua janji dari sang calo berambut cepak itu sekadar indah kabar dari rupa. Penumpang berjubel kaya ikan sarden. Penumpang terpaksa berdiri. Sebagian duduk di lantai. Saya takjub sambil berpikir ini justru menarik buat difoto dan dikisahkan.

Di dalam pesawat saya duduk di bawah. Sambil menggeserkan pantat memberi ruang buat seorang ibu tua. Saya berbincang dengan seorang penumpang yang naik pesawat dari Timika ke Surabaya. Dia bilang dia membayar Rp1,3 juta untuk naik pesawat. Hal yang sama juga diceritakan banyak penumpang. Intinya mereka terpaksa naik pesawat milik tentara ini karena sulit mendapat tiket. Dan yang tidak mereka duga adalah di dalam pesawat mereka --juga saya-- bertumpukkan bak sarden. Sementara para perwira TNI AU mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Tetapi para prajurit rendahan juga bernasib sama dengan para penumpang lainnya.

Soal keselamatan penerbangan, kenyamanan penumpang, pelanggaran peraturan, dan sebagainya menjadi nomor kesekian rupanya. Saya menduga, bisa jadi inilah cara para tentara mencari uang. Uang itu dibagi-bagi lagi kepada para atasan dan pihak lainnya. Ini memang negeri para penipu!!!

2 comments:

Anonymous said...

Ah menyedihkan ya, negeriku!!!
-Nina-

Yola said...

Wah, kapan2 boleh juga nyobain pesawat TNI..biar semakin lengkap pengalamanku..umpel2an di bis sering, umpel2an di kereta juga sering, di kapal laut juga pernah waktu mudik..hahaha..