Thursday, May 24, 2007

Selamat Jalan Bung



Dalam sebuah perjalanan ke Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung, aku bertemu dengannya. Bung Zahari Mendim namanya. Dari dia mengalir deras kisah, derita, juga nestapa. Dia batal dilantik menjadi Camat di salah satu daerah di Belitung. Karena dalam sebuah obrolan di warung kopi Bung Zahari menyatakan kekagumannya pada anak Belitung bernama DN Aidit yang bisa menjadi orang besar di Jakarta dan punya pengaruh politik luas dan kuat.

Keesokan harinya setelah obrolan itu, Bung Zahari batal dilantik jadi Camat. Dia tidak menduga di warung kopi itu ada seorang intel negara yang membawa cerita soal kekaguman yang sebenarnya sangat sederhana itu ke atasannya. Laporan itu pun berkembang luas dan berakhir dengan pemenjaraan Bung Zahari dalam waktu yang cukup panjang. Semua proses hingga pemenjaraan tidak berdasarkan prosedur yang adil, terbuka, dan transparan.

Tadi malam, sebuah kabar disampaikan seseorang kepadaku: Bung Zahari Mendim berpulang. Aku menduga Bung Zahari membawa semua cerita dukanya –mudah-mudahan juga cerita riang—ke alam sana. Selamat jalan Bung.

2 comments:

fennil said...

zahari mendim, adalah orang yang sangat bersahaja dalam kehidupan kami,derita, ketidak adilan hidup yang di alaminya, merupakan pelajaran berharga bg kami, di kakek kami tercinta, ia titipkan semangat kepada kami,jujur adalah modal utamanya,jujur membuatnya menderita jujur membuat kami bangga.

Budi Kurniawan said...

saya kira ia memberi banyak inspirasi.