Thursday, October 18, 2007

Bubuhan Amang dan Ibnu Hajar (Catatan untuk Konggres Budaya Banjar 28 Oktober-1 November 2007 di Banjarmasin)


Oleh : Budi Kurniawan (Alumnus FISIP Unlam Banjarmasin, wartawan, dan penulis buku. Tinggal di Jakarta. E-mail: budibanjar@yahoo.com)


Pada awalnya Banjar atau Bandar, menjadi sebutan sebuah kampung kecil yang dipimpin Patih Masih di pinggiran Sungai Kuin yang berfungsi sebagai pelabuhan kecil. Sebutan ini kemudian menjadi identitas kelompok etnis yang menjadi pendukung utama terbentuknya Kerajaan Banjar. Islam yang masuk kala perebutan kekuasaan marak di istana, mengakibatkan Hindu tersingkir. Tak pelak, Islam pun menjadi agama negara. Lalu Banjar dan Islam pun jadi tak terpisahkan. Adagium Banjar adalah Islam, dan Islam adalah Banjar pun mengkristal.
Dalam catatannya, Karl Muller menyatakan sebagian besar Urang Banjar menyebut dirinya sebagai Melayu atau Dayak yang beragama Islam (Karl Muller, Introducing Kalimantan, Penerbit Periplus Edition, 47).
Definisi dan kristalisasi Banjar adalah Islam, dan Islam adalah Banjar, kemudian mempengaruhi reproduksi dan transformasi nilai-nilai yang bergerak bak pendulum. Pergerakan ini berbanding lurus dengan migrasi Urang Banjar ke segala penjuru Nusantara yang selain disebabkan oleh alasan perubahan nasib, perbaikan kehidupan ekonomi, penaklukan lahan gambut, menyingkir dari Perang Banjar yang berkecamuk pasca konflik internal Kerajaan Negara Daha pada Abad 16, pergi ke pedalaman sehingga terbebas dari kewajiban membayar pajak pada Kompeni, dan penyebaran Islam.

Alasan ini selain menjadi pondasi bagi terbentuknya komunitas baru yang jauh dari pusat kekuasaan Kerajaan Banjar dan tanah lahir, juga menjelma jadi perekat antar anggota komunitas. Walau ruang komunitas yang terbentuk berbeda, namun nilai-nilai yang diproduksi –juga ditransformasikan—tak jauh berbeda dengan tanah asal, namun tetap mengadopsi dan memadukan nilai-nilai lama di tanah harapan. Sehingga yang terjadi kemudian –dalam soal bahasa misalnya-- Urang Banjar perantauan sering memiliki dialek yang berbeda dengan di tanah asal mereka.

Adopsi dan perpaduan dengan nilai-nilai di tanah harapan tak semuanya berlangsung mulus. Sebagian Banjar perantauan yang memiliki base ekonomi sering secara tidak sengaja menciptakan sekat halus dengan orang-orang dan budaya di tanah harapan. Di beberapa daerah di pedalaman Kalimantan Tengah misalnya, masih sering muncul idiom yang relatif mempariakan –selain dominasi bahasa Banjar atas bahasa yang dipergunakan orang Dayak di pedalaman. “Bubuhan Amang” (sebutan untuk orang-orang tua Dayak Ngaju berpenampilan lusuh dan tak berpendidikan yang membeli segala macam bahan pokok di warung dan toko-toko Urang Banjar perantauan), “Biaju” (ingat sejarah awal sebutan ini), “Bubuhan Sabalah” (sebutan terhadap Dayak bukan Islam yang dikembangkan Urang Banjar di berbagai daerah baik di Kalsel maupun Kalteng), “Bubuhan Palang”, “Bubuhan Simpang Empat” (sebutan Urang Banjar pada Dayak Kristen), adalah antara lain sebutan yang hingga kini masih sering terdengar.

Ini belum lagi ditambah dengan folklor, joke, dan anekdot yang dikembangkan Urang Banjar untuk menggambarkan keterbelakangan Orang Dayak (ingat joke tentang kalambu, es yang dingin dan ditiup Orang Dayak, atau tentang cara mencuci kemaluan laki-laki Banjar yang menggunakan daun, dan seterusnya). Padahal sejarah Banjar yang terjadi di masa silam, tak bisa menafikkan betapa berpadunya Dayak dan Banjar. Baik dalam hubungan kawin mawin di antara elite kerajaan dengan putra-putri tokoh Dayak berpengaruh, maupun keterlibatan Dayak menentang Kompeni dalam Perang Banjar.

Jika mau jujur, sesungguhnya ada nilai yang kurang fleksibel yang dikembangkan Banjar perantauan di tanah-tanah harapan di Kalteng yang dulu mereka datangi dan kini diami.
Untungnya orang Dayak –paling tidak hingga kini-- memiliki hati yang lapang menerima kurang fleksibelnya nilai-nilai yang dikembangkan Banjar perantauan itu.

Konflik etnis Dayak-Madura di Sampit misalnya menjadi penanda betapa Dayak sesungguhnya menerima Banjar dengan sangat baik. Walau banyak berbeda keyakinan (Dayak diidentikkan dan mengidentikan dirinya sebagai Kaharingan dan Kristen –sebagian Islam--) dalam konflik etnis itu tak ada satu pun Urang Banjar menjadi korban. Skenario kalangan elit dan kelompok berkepentingan untuk membenturkan Dayak yang Kristen dan pendatang yang Islam (Banjar, Bugis, Batak, Jawa, dan Sunda) tak sempat berkembang. Kearifan ini tak salah jika diadopsi Banjar perantauan di mana pun berada.

Sayangnya Banjar sendiri menghadapi masalah dalam dirinya. Sejarah Banjar misalnya masih dipenuhi kisah-kisah heroik yang bergerak sentralistik di sekitar tokoh-tokohnya. Perang yang melibatkan Pangeran Antasari dan Kompeni misalnya masih disebut sebagai Perang Banjar. Padahal perang yang sesungguhnya terjadi bukan di Banjarmasin dan sekitar pusat kekuasaan Kerajaan Banjar. Perang Banjar lebih berkecamuk di pedalaman Barito –kini menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Tengah. Karena itu dalam beberapa buku yang ditulis cendekiawan Dayak, mereka menyebut perang itu sebagai Perang Banjar/Barito.

Banjar juga kurang memberi ruang bagi sejarah kaum –kalangan tentara dan kaum komunis-- yang dipinggirkan sejarah. Padahal kalangan ini –apapun persoalannya—memiliki kontribusi besar dalam sejarah Banjar modern. Kini misalnya sulit mencari sejarah Banjar yang menulis peran Amar Hanafiah dan Ibnu Hajar. Kalau pun ada, semua masih ditulis dalam perspektif pecundang (Amar Hanafiah) dan pemberontak (Ibnu Hajar). Padahal jika dialektika sejarah terjadi, maka peran kaum yang dipinggirkan sejarah ini sesungguhnya bisa mengemuka.

Amar Hanafiah misalnya bersikap tegas membela kalangan tak berpunya. Dan Ibnu Hajar misalnya bersikap keras pada dominasi tentara asal Jawa yang kebetulan berpendidikan tapi tak punya rekam jejak pertempuran. Ibnu Hajar menolak takluk pada dominasi itu dan memilih “melawan” kekuasaan. Sikap yang kemudian menelan dan menghunjamkan keduanya ke dasar jurang pecundang.

Jika memang Banjar ingin menjadi sebuah identitas yang modern, tidak terbuai dengan kisah heroik dan jargon-jargon kosong, dan bisa beradaptasi dalam mereproduksi dan mentransformasikan nilai-nilai, maka memberi ruang terhadap segala macam perbedaan tanpa “melecehkan” identitas dan rekam jejak kaum yang dipinggirkan sejarah, adalah salah satu jalan dan pilihan yang wajib ditempuh. Selamat berkongres. Semoga menghasilkan sesuatu yang baru dan membumi.

9 comments:

alfigenk said...

coba baca..
http://www.freelists.org/archives/ppi/02-2005/msg00206.html

saya merasa aneh dengan identitas banjar,karena apa bedanya dengan orang dayak?itu pertanyaan saya sedari saya kecil...secara fisik tidak ada bedanya.bahkan secara budaya banyak persamaan,sama-sama mengkeramatkan kain kuning,logat waktu pembacaan doa juga sama,dan sedari dulu diantara kami orang pahuluan di banua bahwa orang bukit(orang dayak meratus) adalah bersaudara dengna orang banjar,dan itu tidak bisa di pungkiri,,,
saya pikir orang banjar itu adalah orang dayak,,,

budi said...

saya setuju dengan Anda. Banjar sesungguhnya adalah Dayak. Hanya saja dalam proses reproduksi nilai-nilai, sebagian Banjar menanggap dirinya bukan Dayak. Apalagi stigmanisasi agama turut mempersubur perasaan itu.

Salam hangat,
Budi Kurniawan

jundi said...

setuju mang, narai beda banjar dengan bakumpai atau dayak. Tak beda jauh tetapi secara entitas, banjar lebih menunjukkan identitas tertentu dan dayak itu identitas yang lain. Asal usulnya sama saja

Salam > www.ibnubanjar.wordpress.com

Anonymous said...

Saya sangat setuju dengan pendapat dan pandangan anda tentang sebagian sikap orang banjar terhadap orang dayak selama ini, hal tersebut tidak lain karena tidak intensnya pelajaran sejarah lokal yang diajarkan pada sekolah-sekolah di daerah ini, sehingga sebagian masyarakat tidak mengetahui bahwa antar orang banjar dan orang dayak sejak dulu seperti dua mata sisi uang logam yang tak terpisahkan perbedaan keyakinan yang tidak dapat dijadikan ukuran untuk membedakan antara banjar dan dayak.tk

Senapatianom said...

salam hangat... saya orang banjar campuran darah dayak bukit dan maanyan.. isteri kalahiyen... sayangnya sampai saat ini para tetuha dan petinggi masing2 daerah di kalimantan khususnya kalsel-teng tidak pernah berinisiatif untuk menggali kembali sejarah eratnya persaudaraan Dayak-Banjar, bahkan tidak pernah terdengar diangkatnya persaudaraan Dayak-Banjar dalam satu wadah organisasi... kalau ada saya yang pertama ikut

Anonymous said...

budidayak.blogspot.com is very informative. The article is very professionally written. I enjoy reading budidayak.blogspot.com every day.
payday loans toronto
payday loans

fahridi-ulin said...

Banjar-dayak adalah saudara, satu rumpun,jangan sampai terjadi konflik yg dipicu ketidaktahuan sejarah asal usulnya,bagus sekali kalau ada buku yg khusus mengulas hal ini

Anonymous said...

dayak meratus sesungguhnya mempunyai hubungan genealogis dengan orang banjar hulu. Tengok "orang Banjar Meratus" dalam http://bubuhanbanjar.wordpress.com/

Anonymous said...

orang banjar sebutan untuk penduduk banjarmasin, orang-orang dari kabupaten lain hanya ikut-ikutan menyebut dirinya orang banjar, namun biasanya jika di kalsel orang martapura, orang tamban, orang anjir, orang kandangan, orang nagara dsb tetap menyebut diri sesuai daerah asalnya.